Inilah 10+ Macam- Macam Puasa yang Perlu Diketahui, Berikut Penjelasannya!

Macam Macam Puasa – Hallo sahabat Juraganesia yang kami hormati dan dicintai oleh Allah Swt. Terimakasih telah mengunjungi laman artikel berikut ini, semoga dapat mengambil hikmah berupa pelajaran dan manfaat tentunya kepada para pengunjung laman web ini, Amin ya Rabbal Alamin.

Puasa merupakan salah satu ibadah yang termasuk ke dalam rukun islam. Menjalankannya dengan ikhlas adalah sebuah kebaikan yang berbuah pahala. Selain puasa wajib, kita juga harus senantiasa berikhtiar untuk melaksanakan puasa sunnah.

Maka penting untuk mengetahui macam-macam puasa beserta hukum menjalankannya. Apakah wajib, sunnah, makruh atau bahkah haram. Puasa yang hukumnya haram inilah yang seharusnya tidak kita lakukan.

 

Baca Juga : 15+ Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh Manusia, Spektakuler Banget!

 

 

Pengertian Puasa Secara Lugah / Menurut Bahasa

Pengertian puasa secara lugah atau lughowi (bahasa) ialah dari kata Ash-Shaum (الصَّوْمُ) yang memiliki makna (الإِمْسَاكُ) berarti menahan. Maka atas dasar ini Al-Imam Abu ‘Ubaid dalam kitabnya Gharibul Hadits, berkata:

 

كُلُّ مُمْسِكٍ عَنْ كَلاَمٍ أَوْ طَعَامٍ أَوْ سَيْرٍ فَهُوَ صَائِمٌ

“Semua orang yang menahan diri dari berbicara atau makan, atau berjalan maka dia dinamakan Sha’im (orang yang bershaum).”

Selain itu, hal ini juga sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Sesungguhnya aku telah bernadzar shaum untuk Ar-Rahman, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (Maryam : 26)

Seorang shahabat, yakni Anas bin Malik dan Ibnu ‘Abbas berkata: صَوْمًا maknanya adalah  صَمْتًا  yang artinya menahan diri dari berbicara.

 

Baca Selengkapnya : Apa saja syarat wajib puasa? Berikut Penjelasannya!

 

 

Pengertian Puasa Menurut Istilah

Sedangkan secara terminology atau ishthilah, para ualama berbeda dalam mendefinisikan ash-shaum secara tinjauan syar’i, yang masing-masing definisi tersebut saling melengkapi. Maka sampai pada kesimpulan bahwa definisi ash-shaum secara syar’i ialah:

 

إِمْسَاكُ الْمُكَلَّفِ عَنِ اْلمُفَطِّرَاتِ بِنِيَّةِ التَّعَبُّدِ للهِ مِنْ طُلُوعِ اْلفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ

Yakni, definisi ash-shaum ialah usaha seorang mukallah untuk menahan diri dari berbagai pembatal ash-shaum disertai dengan niat beribadah kepada Allah, dimulai sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Dengan penjelasannya sebagai berikut:

  1. “Al-mukallaf” menunjukkan bahwasanya ash-shaum secara syar’i ialah ibadah yang dilakukan oleh para mukallaf. Yakni mereka yang telah dikenai kewajiban ibadah, dari setiap muslim yang sudah baligh dan sehat akalnya.
  2. “Dengan disertai niat beribadah kepada Allah” menunjukkan bahwa ash-shaum haruslah disertai dengan niat sebagai sebuah bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  3. “Di mulai sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari” yakni sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah kalian hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu (cahaya) fajar. Kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai (datangnya) malam. “ (QS. Al Baqarah : 187).

 

 

Artikel Terkait : Inilah 25+ Keutamaan Sholat Fardhu Berjamaah Paling Bagus, Kamu Wajib Baca!

 

 

Cara Menentukan Klasifikasi Hukum Puasa

Seperti yang kita ketahui bahwa ada banyak sekali macam-macam puasa. Mulai dari puasa wajib, sunnah bahkan puasa yang tidak ada tuntunan syar’i. Nah, puasa yang tidak ada tuntunan syar’i ini yang membahayakan, kita mengerjakan suatu amalan tanpa mengetahui jelas tentang hukum menjalankannya.

Maka penting untuk mengetahui hukum-hukum dalam puasa. Lalu, bagaimana caranya? Islam adalah agama yang paling sempurna, agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan begitu pun dengan ibadah berpuasa. Maka cara untuk menentukkan hukum puasa ialah mengembalikkanya pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

 

Mengenal Berbagai Macam- Macam Puasa

Berikut ini macam-macam puasa beserta hukum menjalankannya.

 

Macam- Macam Puasa Wajib

Puasa Ramadhan

Puasa di bulan Ramadhan hukumnya adalah wajib. Tentu yang memenuhi syarat sah dan syarat wajib berpuasa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 183).

 

 

Puasa Qadha Ramadhan

Puasa Qadha ialah puasa pengganti dari puasa Ramadhan. Hukum menjalankannya ialah wajib, sebagaimana  firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).

 

 

Puasa Kafarat

Puasa kafarat ialah puasa tebusan hukuman semisal kafarat membunuh tidak sengaja kafarat zihar (menyamakan punggung istri dengan ibunya, maksudnya tidak mau menggauli lagi), kafarat berhubungan badan di siang hari pada bulan Ramadhan dan kafarat sumpah.

Dalil naqli tentang puasa kafarat ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa : 92).

 

 

 

Puasa Nazar

Hukum melaksanakan puasa Nazar ialah wajib, hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Baransiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah maka hendaklah ia mentaati-Nya dan barangsiapa yang bernazar untuk maksiat terhadap Allah maka janganlah dia maksiat terhadap-Nya.”

 

 

 

Macam- Macam Puasa Sunnah

Adapun beberapa macam puasa sunnah bagi yang melaksanakannya adalah sebagai berikut :

 

Puasa Senin Kamis

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa salam bersabda:

 

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin da Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya).

 

 

 

Puasa Tiga Hari setiap bulan Hijriyah

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata:

 

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: berpuasa tiga hari setiap bulannya; mengerjakan shalat dhuha; mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhori no. 1178).

 

 

 

Puasa Daud

Puasa Daud dilakukan dengan selang satu hari. Yakni sehari berpuasa dan sehari tidak. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا

“Puaa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka shari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhori no. 3420 dan Muslim no. 1159).

 

 

 

Puasa di Bulan Sya’ban

Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan:

 

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhori no. 1970 dan Muslim no. 1156).

 

 

Puasa enam hari di Bulan Syawal

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

 

 

 

Puasa di awal bulan Dzulhijah

Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ »

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih).

 

 

Puasa Arofah

Puasa Arofah ialah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah. Sebagaimana Abu Qotadah Al Anshoriy berkata:

 

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arofah. Beliau menjawab: ‘Puasa Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.’ Beliau juga ditanya mengenai keistimewaa puas Asyura. Beliau menjawa: ‘Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

 

 

 

Puasa Asyura

Rasulullah Shallallahu’allaihi wa sallam bersabda:

 

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).

 

 

Macam- Macam Puasa Makruh

Sedangkan ada beberapa macam puasa yang memiliki hukum “makruh” bagi yang melaksanakannya, detailnya sebagai berikut :

 

Mengkhususkan puasa pada hari Jum’at

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

(لا تصوموا يوم الجمعة إلا أن تصوموا يوماً قبله أو يوماً بعده (متفق عليه

“Janganlah engkau semua (mengkhususkan) berpuasa pada hari Jum’at kecuali engkau semua berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Mutafaq alaih).

 

 

Mengkhususkan puasa pada hari Sabtu

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kamu semua (mengkhususkan) berpuasa pada hari Sabtu kecuali apa yang Allah wajibkan kepada kamu semua. Kalau sekiranya salah seorang di antara kamu tidak mendapatkan kecuali kulit anggur atau pelepah pohon (untuk berbuka, maka berbukalah dengannya). “ (HR. Tirmidzi no 744 dihasankan oleh Abu Daud no. 2421, Ibu Majah no. 1726 dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab Irwaul Ghalil no. 960).

 

 

Macam- Macam Puasa Haram

Berikut ini ada beberapa macam puasa yang diharamkan untuk kita melaksanakannya. Yakni beberapa puasa ini diharamkan karena waktu menjalannya. Di antaranya adalah erpuasa pada hari raya Idul Fitri serta pada hari-hari tasyrik, yakni tiga hari seteah hari nahar atau Idul Adha.

Selain itu kita juga diharamka untuk berpuasa pada hari yang meragukan. Serta bagi para perempuan, maka haram baginya untuk melaksanakan puasa pada saat sedang haid atau nifas.

 

 

Nah Juraganers Lovers, Demikianlah penjelasan mimin seputar macam-macam puasa yang harus kita ketahui serta kita amalkan semaksimal mungkin. Terlebih pada puasa wajib, maka sudah menjadi kewajiban kita pula untuk melaksanakannya. Semoga artikel ini bermanfaat ya guys!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Don\'t Copy the Content is protected by Copyright!!
%d bloggers like this: