15 Komoditas Impor Indonesia yang Harus Kamu Tahu!

Komoditas Impor Indonesia – Hallo salam sejahtera dan bahagia buat sahabat Juraganers seluruh Indonesia dimanapun kalian berada, terimakasih telah mengunjungi laman artikel pada kanal ekspor impor. Tentu, bagi kalian yang tertarik seputar dunia perdagangan internasional, artikel kali ini dapat membuka wawasan anda seputar hal tersebut.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas apa saja sih jenis komoditas impor Indonesia yang memiliki nilai impor tertinggi pada tahun 2018? Dan apa saja komoditi yang sering diimpor ke dalam negeri sang saka merah putih? Temukan jawabannya disini!

Meskipun Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam melimpah atau bisa disebut sebagai negara kaya raya serta banyak sekali komoditas ekspor Indonesia yang melalang ke berbagai belahan negara lain seperti kopi, karet, nikel, rotan dan lain-lain.

Namun, Indonesia juga harus melakukan proses impor barang dari luar negeri mulai produk pangan, bahan baku penolong hingga barang modal. Nah Juraganers, kira- kira apa saja komoditas impor Indonesia yang paling banyak dibeli dari luar negeri?

Berikut 15 barang yang paling banyak diimpor berdasarkan data BPS secara akumulatif sepanjang awal tahun 2018.

 

Baca Juga : 7+ Komoditas Ekspor Indonesia Paling Aneh, Ngakak!

 

 

5 komoditas pangan impor di Indonesia sepanjang Januari 2018

Hingga sekarang, Indonesia masih harus terus melakukan impor beberapa komoditas barang konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Berikut 5 jenis komoditas impor Indonesia yang memiliki nilai tinggi sepanjang bulan Januari 2018.

1. Daging lembu beku tanpa tulang sebesar US$ 15,1 miliar

Sudah lama diketahui bahwa sistem produksi sapi dalam negeri belum bisa diandalkan. Segmen usaha peternakan masih belum diminati secara komersil maka tak heran kalau Indonesia masih harus melakukan impor untuk komoditas pangan satu ini. Peningkatan kebutuhan konsumen terus meningkat apalagi waktu khusus terjadi lonjakan permintaan seperti bulan puasa atau hari raya tiba.

2. Susu bubuk sebesar US$ 11,3 juta

Komoditas impor Indonesia yang juga masih tinggi adalah kebutuhan susu bubuk. Kualitas susu sapi Indonesia masih kalah jauh dengan negara penghasil susu terbesar, Selandia Baru. Jangan heran kalau negeri ini masih harus melakukan impor susu dalam bentuk skim (bubuk) dari Selandia Baru dan Australia. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, setidaknya 80% kebutuhan susu di Indonesia merupakan hasil impor luar negeri.

3. Beras khusus sebesar US$ 4,7 juta

Negara agraris namun tidak mampu melakukan swasembada beras memang patut disoroti. Beras menjadi salah satu komoditas impor Indonesia yang selalu menduduki jajaran sepuluh besar komoditi impor setiap tahun. Negara yang mensuplai beras di Indonesia antara lain Vietnam, Thailand, Pakistan, India, Myanmar dan lain-lain.

4. Apel sebesar US$ 4,6 juta

Indonesia juga mengimpor apel dari Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan buah dalam negeri.

5. Anggur US$ 4 juta

Meski diberitakan angka pada Januari 2018 cenderung menurun dari angka impor pada Desember 2017, anggur tetap menjadi komoditas impor Indonesia tertinggi untuk buah-buahan. Negara yang memasok anggur antara lain China, Peru, Amerika Serikat dan lain-lain.

Tentu masih ada banyak bahan pangan yang diimpor Indonesia dari luar negeri seperti beras, gandum, daging ayam, susu, buah-buahan dan sebagainya. Kebijakan impor memang harus disoroti agar stabilitas harga lokal tetap seimbang. Namun, nilai impor bisa berubah sewaktu-waktu mengingat kebutuhan masyarakat yang tidak menentu.

Pada bulan-bulan penuh permintaan seperti hari raya, kebutuhan barang impor khususnya produk pangan atau konsumsi ini bisa saja meningkat drastis.

 

 

 

5 Komoditas Impor Bahan Baku Indonesia Sepanjang Tahun 2018

Bahan baku atau merupakan jenis bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi. Untuk komoditas impor Indonesia di sektor bahan baku atau penolong Indonesia yang memiliki akumulatif tinggi pada bulan Januari 2018 sebagai berikut.

1. Peralatan helikopter sebesar US$ 143 juta

Anda pasti sudah tahu bahwa negeri ini memerlukan suplai peralatan helikopter dari negara lain karena PT DI belum mampu memproduksi pesawat atau helikopter sendiri. Ya, PT DI didesak mampu merancang helikopter sendiri untuk mengurangi impor helikopter dan pesawat dari luar negeri. Selama ini, PT DI dianggap memiliki banyak kelemahan dalam proyek perakitan pesawat dan helikopter.

2. Kain katun sebesar US$ 133 juta

Kain katun menjadi komoditas impor Indonesia terkait kebutuhan tekstil. Hal ini disebabkan oleh harga tekstil impor dari China lebih murah dibandingkan lokal. Selain itu, lahan di Indonesia tidak mampu memproduksi kapas dengan baik dibandingkan dengan Amerika Serikat dengan kapasitas lahan yang sama. Tak heran jika impor kapas untuk bahan baku kain katun juga sangat tinggi.

3. Kedelai sebesar US$ 97 juta

Indonesia merupakan negara penghasil tempe terbesar di dunia namun masih bergantung pada impor kedelai. Miris, ya? Hal ini disebabkan oleh kebutuhan kedelai yang mencapai 2,5 juta ton setiap tahun, sedangkan pertanian Indonesia hanya mampu menyumbangkan total 700-800 ribu ton saja per tahun.

Beberapa penyebab ditengarai menjadi alasan rendahnya produksi kedelai dalam negeri seperti lahan penanaman yang minim, penyediaan benih varietas unggul dan pupuk para petani yang kurang maksimal hingga kebijakan penetapan harga kedelai pada setiap panen yang membuat petani kehilangan gairah menanam komoditas ini.

4. Peralatan elektronik lainnya US$ 87 juta

5. Bagian Peralatan elektronik US$ 69 juta

Dua sub nomor 4 dan 5 ini merupakan komoditas impor Indonesia yang selalu dilakukan sejak dulu hingga sekarang. Saat ini, industri elektronik Indonesia masih harus bergantung pada impor komponen elektronik luar negeri. Padahal, industri elektronik merupakan jenis usaha yang terus mengalami peningkatan sepanjang tahun.

 

 

 

5 Komoditas Impor Barang Modal Indonesia Sepanjang Januari 2018

Barang modal memiliki pengertian barang yang dihasilkan untuk menghasilkan barang lain bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumen secara langsung. Berikut ini, 5 komoditas impor Indonesia terkait barang modal yang menduduki akumulatif tinggi sepanjang awal tahun ini.

1. Laptop sebesar US$ 67 juta

Kebutuhan masyarakat Indonesia pada sistem komputer terus meningkat. Gempuran produk luar negeri khususnya Negeri Tirai Bambu membuat masyarakat membeli teknologi yang dibandrol dengan harga murah tersebut.

2. Telepon sebesar US$ 45 juta

Sebagai negara dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial. Kemajuan teknologi penyiaran dan telekomunikasi membuat barang berupa telepon begitu digilai masyarakat Indonesia. Impor produk telepon atau smartphone Indonesia mencapai angka puluhan juta dolar Amerika Serikat.

3. Mesin logam US$ 1,2 juta

4. Penggilingan US$ 300 ribu

5. Mesin air panas US$ 200 ribu

Indonesia masih menjadi negara yang mengimpor berbagai mesin yang bisa digunakan untuk mengolah sumber daya alam atau energi. Sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, Indonesia masih harus bersaing dengan negara lain untuk mampu mengolah sumber daya manusia secara maksimal.

Tak mengherankan jika Indonesia masih harus mengimpor berbagai peralatan mesin dan teknologi dari luar. Selain 15 komoditas impor Indonesia yang disebutkan di atas, sektor impor migas juga masih sangat tinggi.

Pada awal tahun 2018 ini, sektor migas melonjak drastis sehingga neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit hingga 670 juta USD. Nilai tersebut terjadi setelah nilai ekspor minyak mentah dan hasil minyak cenderung sedikit dibandingkan nilai impor pada produk yang sama.

Komoditas impor Indonesia terus berubah sepanjang waktu baik sektor konsumsi, bahan baku penolong dan barang modal. Informasi mengenai 15 jenis komoditas yang memegang nilai tertinggi sepanjang awal tahun 2018 di atas bisa menjadi bahan referensi Anda.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Don\'t Copy the Content is protected by Copyright!!
%d bloggers like this: