15+ Keutamaan Sholat Tasbih yang Perlu Kamu Ketahui!

Keutamaan Sholat Tasbih – Hallo sahabat Juraganesia para generasi penerus bangsa yang berakhlakul karimah, terimakasih telah menyempatkan waktunya untuk membaca seputar ilmu agama. Semoga ulasan kali ini dapat bermanfaat ya bagi semuanya, Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Keutamaan Sholat Tasbih

Keutamaan Sholat Tasbih – Juraganesia.net

Pada ulasan kali ini kita akan membahas seputar keutamaan – keutamaan sholat tasbih. Sebagaimana tujuan dari penciptaan manusia yakni semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Maka sudah seharusnya kita mengisi setiap detik waktu di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yakni memperbanyak amal sholih seperti bersedekah, berdakwah, menunaikan amalan wajib dan sunnah. Ada pun amalan sunnah yang dapat kita kerjakan ialah sholat tasbih yang memiliki keutamaan yang agung apabila kita mengerjakannya.

 

 

 

 

Apa itu Sholat Tasbih?

Keutamaan Sholat Tasbih

Keutamaan Sholat Tasbih – Juraganesia.net

Sebelum membahas keutamaan sholat tasbih lebih jauh lagi. Perlu kita ketahui bersama apa sebenarnya sholat tasbih itu sendiri. Sholat tasbih ialah salah satu sholat sunnah yang memiliki banyak sekali keutamaannya. Tidak ada waktu khusus untuk melaksanakan sholat tasbih, sehingga dapat dilakukan kapan saja, baik siang atau malam, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan sholat.

Selain itu, sholat tasbih pula dapat dilaksanakan secara munfarid atau secara berjamaah, baik di rumah atau di masjid, atau di mana saja asalkan di tempat yang suci dari najis. Sebab tidak ada batasan apa pun yang tercantum dalam masih, sehingga perkara ini tetap pada kemutlakannya.

 

 

 

Sholat Tasbih Menurut Para Alim Ulama

Keutamaan Sholat Tasbih

Keutamaan Sholat Tasbih – Juraganesia.net

Terdapat sebuah perbedaan pendapat mengenai dalil sholat tasbih. Ada pun nash hadits mengenai sholat tasbih ialah sebagai berikut :

 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَـلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعطِيْكُ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحَبُوِكَ أَلاَ أَفَعَلُ بِـكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْـتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوْلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمـَهُ وَحَدِيْثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيْرَهُ وَكَبِـيْرَهُ سِـرَّهُ وَعَلاَنِيَـتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبـَعَ رَكَعَاتٍ تَكْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَائَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِ لِلَّهِ وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَـاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَـاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْـجُدُ فَتَقُولُهَا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ بُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَـنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُركَ مَرَّةً

 

“Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah bersabda kepada Abbas bin Abdul Muththalib, “Hai Abbas, hai pamanku, maukah engkau aku beri? Maukah engkau aku kasih? Maukah engkau aku beri hadiah? Maukah engkau aku ajari sepuluh sifat (pekerti)? Jika engkau melakukannya, Allah mengampuni dosamu: dosa yang awal dan yang akhir, dosa yang lama dan yang baru, dosa yang tidak disengaja dan yang disengaja, dosa yang kecil dan yang besar, dosa yang rahasia dan terang-terangan, sepuluh macam (dosa). Engkau sholat empat rakaat. Pada setiap rakaat engkau membaca al-Fatihah dan satu surat (al-Quran). Jika engkau telah selesai membaca (surat) pada awal rakaat, sementara engkau masih berdiri, engkau membaca, ‘Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illa Allah, wallahu akbar’ sebanyak 15 kali. Kemudian ruku’, maka engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, lalu ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau turun sujud, ketika sujud engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, maka engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau bersujud, lalu ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu, maka engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Maka itulah 75 (dzikir) pada setiap satu rakaat. Engkau lakukan itu dalam empat rakaat. Jika engkau mampu melakukan (sholat) itu setiap hari sekali, maka lakukanlah! Jika engkau tidak melakukannya, maka (lakukan) setiap bulan sekali! Jika tidak, maka (lakukan) setiap tahun sekali! Jika engkau tidak melakukannya, maka (lakukan) sekali dalam umurmu.”

 

 

Takhrij Hadist Diatas :

Takhrij haditsnya ialah sebagai berikut: Hadits riwayat Abu Dawud 1297; Ibnu Majah, 1387; Ibnu Khuzaimah, 1216; al-Hakim dalam Mustadrak, 1233; Baihaqi dalam Sunan Kubra, 3/51-52, dan lainnya dari jalan Abdurrahman bin Bisyr bin Hakam, dari Abu Syu’aib Musa bin Abdul Aziz, dari Hakam bin Abban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Sanad ini berderajat hasan.

Terlepas dari hal itu, hadits ini juga memiliki banyak jalan yang menguatkan, sehingga sangat banyak sekali ulama Ahli Hadits yang menguatkannya. Seperti dalam riwayat lain disebutkan :

 

عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ قَالَ حَدَّثَنِي رَجُل كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ يَرَوْنَ أَنَّهُ عَنَّهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ائْتِنِي غَدًا اَحءبُوكَ وَأُثِـيْبُكَ وَأَعْطِيْكَ حَتَّى ظَنَنءتُ أَنَّهُ يُعْطِينِي عَطِيَّة قَالَ إِذَا زَالَ النَّهَارُ فَقثمْ فَصَلّ أَرْبَـعَ رَكَعَاتٍ فَذَكَرَ نَحَوَهُ قَالَ ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَـكَ يَعْنِي مِنْ السَّجْدَةِ الثَّالِيَةِ فَاسْتَوِ جَالِسًا وَلاَ تَقثمْ حَتَّى تُسَبِّحَ عَشْرًا وَتَحْمَدَ عَشْرًا وَتُكَبِّرَ عَشْرًا وَتُهَلِّلَ عَشْرًا ثُمَّ تَصْنَعَ ذَلِكَ فِي الأَرْبَعِ الرَّكَعَاتِ قَالَ فَإِنَّكَ لَوْكُنْتَ أَعُظَمُ أَهْلِ الْـأَرْضِ ذَنْبًا غُفِرَ لَكَ بِذَلِكَ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أُصَلِّيَهَا تِلْكَ الـسَّـاعَةَ قَالَ صَلِّهَا مِنْ اللَّيْـلِ وَالنَّهَار

 

“Dari Abul Jauza’, dia berkata, ‘Telah bercerita kepadaku seorang laki-laki yang termasuk sahabat Nabi. Orang-orang berpendapat, dia adalah Abdullah bin Amr, dia berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Datanglah kepadaku besok pagi. Aku akan memberimu hadiah, aku akan memberimu kebaikan, aku akan memberimu.’ Sehingga aku menyangka, bahwa beliau akan memberiku suatu pemberian. Beliau bersabda, ‘Jika siang telah hilang, berdirilah, kemudian sholatlah empat rakaat’ (Kemudian dia menyebutkan seperti hadits di atas) Beliau bersabda, ‘Kemudian engkau angkat kepalamu –yaitu dari sujud kedua-, lalu duduklah dengan sempurna, dan janganlah kamu berdiri sampai engkau bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, bertakbir sepuluh kali, dan bertahlil sepuluh kali. Kemudian engkau lakukan itu dalam empat rakaat. Sesungguhnya, jika engkau adalah penduduk bumi yang paling besar dosanya, engkau diampuni dengan sabab itu.’ Aku (sahabat itu) berkata, ‘Jika aku tidak mampu melakukannya pada saat itu?’ Beliau menjawab, ‘Sholatlah di waktu malam dan siang.’” (HR. Abu Dawud, no. 1298).

 

Pun diriwayatkan dari Thabarani dan Ibnu Majah, no. 1386, pada hadits akhir Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

 

فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوْبُكَ مِثْلَ رَمْلِ عَالِجٍ غَفَرَهَا اللهُ لَكَ

“Seandainya dosa-dosamu semisal buih lautan atau pasir yang bertumpuk-tumpuk, Allah mengampunimu.” (Dishahihlan al-Albani dalam Shahih at-Targhib Wat Tarhib, 1/282).

 

 

Perawi yang Melemahkan Hadist Tentang Sholat Tasbih

Di bawah ini beberapa ulama yang melemahkan hadits sholat tasbih ialah sebagai berikut :

 

1. Ketika mengomentari hadits sholat tasbih yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Abu Bakar Ibnul A’rabi berkata, “Hadits Abu Rafi’ ini dha’if, tidak memiliki asal di dalam (hadits) yang shahih dan yang hasan. Imam Tirmidzi menyebutkannya hanyalah untuk memberitahukannya agar orang tidak terpedaya dengannya.” (Tuhfzatul Ahwadzi Syarh Tirmidzi, al-Adzkar karya an-Nawawi, hal. 168).

2. Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan hadits-hadits sholat tasbih dan jalan-jalannya, di dalam kitab beliau al-Maudhu’at, kemudian men-dha’if-kan semuanya dan menjelaskan kelemahannya.

3. Imam adz-Dzahabi rahimahullah menganggapnya termasuk hadits munkar (Mizanul I’tidal, 4/213. Dinukil dari Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 32, tahqiq Syaikh Abdullah al-Laitsi al-Anshari).

 

 

 

Perawi yang Menguatkan Hadist Sholat Tasbih

Ada pun sejumlah ulama besar Ahli Hadits yang telah menguatkan menshahihkan hadits sholat tasbih, ialah :

 

1. Ar-Ruyani rahimahullah berkata dalam kitab al-Bahr, di akhir kitab al-Janaiz, “Ketahuilah, bahwa sholat tasbih dianjurkan, disukai untuk dilakukan dengan rutin setiap waktu, dan janganlah seseorang lalai darinya.”

2. Ibnul Mubarak. Beliau ditanya, “Jika seseorang lupa dalam sholat tasbih, apakah dia bertasbih dalam dua sujud sahwi 10, 10 (sepuluh, sepuluh)?” Beliau menjawab, “Tidak, Sholat tasbih itu hanyalah 300 (tiga ratus) tasbih.” Dalam riwayat ini, Ibnul Mubarak tidak mengingkari sholat tasbih, yang menunjukkan bila beliau membenarkannya (Al-Adzkar, hal. 169). Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Ibnul Mubarak dan banyak ulama berpendapat (disyariatkannya) sholat tasbih dan mereka menyebutkan kautamaannya.” (Al-Adzkar, hal. 167).

3. Al-Hafizh al-Mundziri (wafat 656 H) berkata, “Hadits ini telah diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi, dan yang paling baik ialah hadits Ikrimah ini. Dan telah dishahihkan oleh sekelompok ulama, di antaranya al-Hafizh Abu Bakar al-Aajuri, Syaikh kami al-Hafizh Abul Hasan al-Maqdisi, semoga Allah merahmati mereka. Abu Bakar bin Abu Dawud berkata, “Aku mendengar bapakku berkata, ‘Tidak ada hadits shahih dalam sholat tasbih, kecuali ini’.” Muslim bin al-Hajjaj berkata, “Tidaklah diriwayatkan di dalam hadits ini sanad yang lebih baik dari ini (yakni isnad hadits Ikrimah dari Ibnu Abbas).” (Shahih at-Targhib wat Targhib, 1/281, karya al-Mundziri, tahqiq al-Albani).

4. Imam Nawawi rahimahullah (wafat 676 H), beliau membuat satu bab, Bab: Dzikir-dzikir Sholat Tasbih, di dalam kitabnya al-Adzkar, hal. 166. Beliau juga menyebutkan perselisihan para ulama tentang hadits-hadits sholat tasbih, dan beliau termasuk ulama yang menyatakan disyariatkannya sholat tasbih.

5. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (wafat 689 H) berkata, “Disukai untuk melakukan sholat tasbih.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 47, tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan).

6. Syaikh as-Sindi (wafat 1138 H) berkata, “Hadits ini (sholat tasbih) telah dibicarakan oleh huffazh (para ulama ahli hadits). Yang benar, bahwa hadits ini hadits tsabit (kuat). Sepantasnya orang-orang mengamalkannya. Orang-orang telah menyebutkannya panjang lebar, dan aku telah menyebutkan sebagian darinya dalam catatan pinggir kitab (Sunan) Abu Dawud dan catatan pinggir kitab al-Adzkar karya an-Nawawi.” (Ta’liq dalam Sunan Ibnu Majah, 1/442).

7. Syaikh al-Albani rahimahullah menshahihkan hadits sholat tasbih ini dalam kitab Shahih at-Targhib Wat Targhib, 1/281.

8. Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari berkata mengomentari perkataan Ibnu Qudamah di atas, “Banyak ulama telah menshahihkan isnad hadits sholat tasbih, dan lihatlah (kitab al-Atsar al-Marfu’ah Fil Akhbar al-Maudhu’ah, hal. 123-143, karya al-Laknawi rahimahullah. Beliau telah mengumpulkan hal itu dengan sangat banyak.” (Catatan kaki Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 47, tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan).

9. Syaikh Salim al-Hilali menshahihkan hadits sholat tasbih dalam kitab beliau Mukaffiratudz Dzunub.

10. Syaikh Abu Ashim Abdullah ‘Athaullah berkata, “Riwayat Abu Dawud; Timidzi; Ibnu Majah; Abdur Razzaq di dalam al-Mushannaf; al-Baihaqi dalam as-Sunan; dan al-Hakim di dalam al-Mustadrak; (derajat hadits) shahih li ghairihi.” (I’lamul Baraya Bi Mukaffiratil Khathaya., hal. 40, taqdim: Syaikh Mushthafa al-Adawi).

11. Selain para ulama di atas, yang juga termasuk menshahihkan hadits sholat tasbih ini ialah Imam Daruquthni, Ibnu Mandah, al-Khathib al-Baghdadi, Ibnu shalah, Ibnu Hajar al-Asqalani, as-Suyuthi, Syaikh Ahmad Syakir, dan lainnya.

 

 

Kesimpulan :

Maka kesimpulan yang dapat diambil ialah sebagai berikut :

  1. Derajat hadits sholat tasbih adalah shahih li ghairihi, sehingga dapat diamalkan. Adapun para ulama men-dha’if-kannya atau menyatakan bahwa hadits sholat tasbih adalah palsu, karena tidak mendapatkan hadits yang kuat sanadnya. Tetapi, hal ini bukan berarti seluruh sanad hadits sholat tasbih tidak shahih. Karena sebagiannya yang berderajat hasan, kemudian dikuatkan jalan lainnya, sehingga meningkat menjadi shahih li ghairihi. Wallahu a’lam.
  2. Sholat tasbih hukumnya sunnah, bukan wajib sebagaimana anggapan sebagian orang.
  3. Cara sholat tasbih sebagaimana hadits di atas.
  4. Sholat tasbih dilakukan 4 rakaat dengan satu salam, sesuai dengan zhahir hadits. Ada juga sebagian ulama yang menyatakan dengan dua salam. Wallahu a’lam.
  5. Waktunya boleh siang ataupun malam.

 

 

 

 

Cara Melaksanakan Sholat Tasbih

Keutamaan Sholat Tasbih

Keutamaan Sholat Tasbih – Juraganesia.net

Pada waktu pelaksanakannya, tidak ada waktu khusus untuk melaksanakan sholat tasbih. Maka dapat dilakukan kapan saja, baik siang mau pun malam, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan sholat.

Sholat tasbih dilaksanakan satu kali setiap hari, dan jika tidak, maka satu kali dalam seminggu, jika tidak, maka satu kali dalam sebulan, jika tidak, maka satu kali dalam setahun, dan jika tidak, maka satu kali seumur hidup. Bisa dilaksanakan secara munfarid atau berjamaah. Tata cara melaksanakannya, Ibnu Hajar Al-Haitami di dalam kitabnya Al-Minhâjul Qawîm menuliskan :

 

و صلاة التسبيح وهي أربع ركعات يقول في كل ركعة بعد الفاتحة والسورة: سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر، زاد في الإحياء: ولا حول ولا قوة إلا بالله خمس عشرة مرة وفي كل من الركوع والاعتدال وكل من السجدتين والجلوس بينهما والجلوس بعد رفعه من السجدة الثانية في كل عشرة فذلك خمس وسبعون مرة في كل ركعة

Artinya: “dan (termasuk shalat sunnah) adalah shalat tasbih, yaitu shalat empat rakaat di mana dalam setiap rakaatnya setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya membaca kalimat subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar—di dalam kitab Ihyâ ditambahi wa lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh—sebanyak 15 kali, dan pada tiap-tiap ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan duduk setelah sujud yang kedua masing-masing membaca (kalimat tersebut) sebanyak 10 kali. Maka itu semua berjumlah 75 kali dalam setiap satu rakaat.” (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhâjul Qawîm, Beirut: Darul Fikr, tt., hal. 203).

 

Maka dari penjelasan Ibnu Hajar di atas dapat disimpulkan tata cara pelaksanaan shalat tasbih sebagai berikut :

 

1. Pada dasarnya tata cara pelaksanaan shalat sunnah tasbih tidak jauh berbeda dengan tata cara pelaksanaan shalat-shalat lainnya, baik syarat maupun rukunnya. Hanya saja di dalam shalat tasbih ada tambahan bacaan kalimat thayibah dalam jumlah tertentu.

2. Setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya, sebelum ruku’ terlebih dahulu membaca kalimat subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar (selanjutnya kalimat ini disebut tasbih) sebanyak 15 kali. Setelah itu baru kemudian melakukan ruku’.

3. Pada saat ruku’ sebelum bangun untuk i’tidal terlebih dahulu membaca tasbih sebanyak 10 kali. Setelah itu baru kemudian bangun untuk i’tidal.

4. Pada saat i’tidal sebelum turun untuk sujud terlebih dahulu membaca tasbih sebanyak 10 kali, baru kemudian sujud.

5. Pada saat sujud yang pertama sebelum bangun membaca tasbih sebanyak 10 kali, baru kemudian bangun untuk duduk.

6. Pada saat duduk di antara dua sujud sebelum melakukan sujud kedua membaca tasbih sebanyak 10 kali, baru kemudian melakukan sujud yang kedua.

7. Pada saat sujud kedua sebelum bangun membaca tasbih sebanyak 10 kali.

8. Setelah sujud yang kedua tidak langsung bangun untuk berdiri memulai rakaat yang kedua, namun terlebih dahulu duduk untuk membaca tasbih sebanyak 10 kali. Setelah itu barulah bangun untuk berdiri kembali memulai rakaat yang kedua.

 

Maka dengan demikian dalam satu rakaat telah terbaca tasbih sebanyak 75 kali. Untuk rakaat yang kedua tata cara pelaksanaan shalat dan jumlah bacaan tasbihnya sama dengan rakaat pertama, hanya saja pada rakaat kedua setelah membaca tasyahud sebelum salam terlebih dahulu membaca tasbih sebanyak 10 kali, baru kemudian membaca salam sebagaimana biasa sebagai penutup shalat.

 

 

 

Bacaan Tasbih yang Baik dan Benar, Harus Dihafal!

Keutamaan Sholat Tasbih

Keutamaan Sholat Tasbih – Juraganesia.net

Bacaan tasbih pada sholat tasbih, sebagaimana telah disampaikan pada hadits sebelumnya ialah sebagai berikut :

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALA ILAHA ILLALLOHU ALLOHU AKBAR

Artinya : “Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar.”

 

 

 

Keutamaan Sholat Tasbih yang Perlu Diketahui!

Keutamaan Sholat Tasbih

Keutamaan Sholat Tasbih – Juraganesia.net

Sholat tasbih memiliki keutamaan yang agung bagi siapa pun yang melaksanakannya dengan ikhlas. Di antara keutamaan sholat tasbih ialah sebagai berikut.

 

1. Merupakan sholat yang kalimatnya paling dipilih oleh Allah Ta’ala

Bacaan tasbih adalah bacaan yang sangat Allah sukai, sehingga bacaan itu menjadi kalimat yang paling dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada suatu waktu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam ditanya oleh sahabatnya tentang ucapan apa yang terunggul. Lalu Rasulullah pun menjawab dengan ucapan seperti ini.

 

مَا اصْطَفَى اللهُ لِمَلاَئِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Yang dipilih Allah SWT terhadap para malaikat NYA dan hamba NYA merupakan ucapan : Subhanallahi wa bihamdihi’ (HR. Muslim).

 

 

 

2. Bacaan Tasbih ialah Senjata Saat Krisis Pangan

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim yang berbunyi :

 

طَعَامُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي زَمَنِ الدَّجَّالِ طَعَامُ الْمَلاَئِكَةِ: التَّسْبِيْحُ وَالتَّقْدِيْسُ، فَمَنْ كَانَ مَنْطِقُهُ يَوْمِئِذٍ التَّسْبِيْحَ أَذْهَبَ اللهُ عَنْهُ الْجُوْعَ

Artinya: “Makanan orang beriman pada zaman munculnya Dajjal adalah makanan para malaikat, yaitu tasbih dan taqdis. Maka barangsiapa yang ucapannya pada saat itu adalah tasbih, maka Allah akan menghilangkan darinya kelaparan” ( HR. al-Hakim).

 

 

 

3. Memperoleh Perkebunan Kurma di Surga

Keutamaan sholat tasbih berikutnya ialah dapat memperoleh perkebunan kurma di surga kelak. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzi seperti berikut ini :

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِى الْجَنَّةِ

Bunyi dari hadist tersebut adalah “Barangsiapa yang mengucapkan kalimat tasbih subhanallahil azhimi wa bi hamdihi, maka ditanamkan baginya satu pohon kurma di surga.” (HR. at-Tirmidzi).

 

 

 

4. Dapat menghapuskan dosa-dosa

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ

Bunyi sabda Rasulullah SAW tersebut adalah “Subhanallahi wa bi hamdihi yang dibaca sebanyak 100 kali maka Allah bisa menghapuskan kesalahan meskipun kesalahan tersebut sebanyak buih yang ada di lautan.” (HR. Muslim dan HR. Bukhari).

 

 

 

5. Senjata untuk menghadapi persoalan yang besar

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah yang mengatakan bahwasannya apabila Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menghadapi persoalan penting, maka Rasulullah akan mengangkat kepalanya ke langit sambil mengucapkan :

“Subhanallahil azhim.” Sedangkan at-Tirmidzi meriwayatkan jika beliau berdoa dengan sungguh-sungguh, maka Rasulullah akan mengucapkan,“Ya hayyu ya qoyyum.”

 

 

 

6. Terhindar dari rasa kesedihan dan penyakit berat

Pada suatu saat seorang muslim bernama Qabishah al-Makhariq mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan berkata :

“Wahai Rasulullah, ajarkan aku beberapa ucapan atau kalimat yang dengan kalimat itu, Allah akan memberi manfaat kepadaku, karena umurku sudah tua dan aku merasa lemah dalam melakukan apapun. Rasulullah pun menjawab seperti berikut ini, Adapun untuk duniamu, maka setelah engkau selesai shalat Shubuh, ucapkanlah tasbih sebanyak tiga kali.”

Berikut ini bunyi haditsnya :

 

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Artinya: “Jika engkau membacanya, maka engkau terhindar dari kesedihan, kusta (lepra), penyakit biasa, belang, lumpuh akibat pendarahan otak (stroke).” (HR. Ibnu as-Sunni dan HR. Ahmad).

 

 

 

7. Memberatkan timbangan amal di akhirat kelak

Bacaan tasbih dapat memberatkan amal, sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

 

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِى الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

“Ada dua kalimat yang keduanya ringan diucapkan di lidah namun memberatkan timbangan amal dan keduanya disukai oleh ar-Rahman, yaitu: Subhanallahi wa bi hamdihi subhanallahil azhim” (HR. Bukhari dan HR. Muslim).

 

 

 

Kegunaan Sholat Tasbih Dalam Kehidupan Sehari- hari

Keutamaan Sholat Tasbih

Keutamaan Sholat Tasbih – Juraganesia.net

 

1. Merupakan kebiasaan yang mulia

Melaksanakan sholat tasbih adalah sebuah kebiasaan yang mulia. Sama halnya dengan melaksanakan amalan-amalan sunnah lainnya. Sebab seseorang yang melaksanakan perkara sunnah, maka ia seperti memanfaatkan waktu hidupnya di dunia dengan sesuatu hal yang sangat mulia serta menghindari hal-hal yang dapat membuatnya tergelincir dalam kubangan dosa.

 

 

 

2. Dapat membuat hati tenang

Sebab sholat tasbih adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, maka Allah senantiasa memberikan ketenangan hati pada mereka yang melaksanakannya dengan niat yang lurus, yakni beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

 

 

3. Menghapuskan dosa

Dalam setiap sholat yang dikerjakan, pastilah kita selalu memanjatkan doa-doa yang salah satu di antaranya ialah memohon ampunan dosa. Maka dari itu sama halnya ketika kita melaksanakan sholat tasbih.

 

 

 

4. Memperoleh pahala dari Allah Ta’ala

Perkara sunnah apabila ditinggalkan maka hal itu tidaklah mengapa, namun alangkah lebih baiknya lagi apabila kita dapat melaksanakannya. Karena setiap amalan sunnah yang dikerjakan akan memperoleh pahala, dan hal itu dapat menjadi tabungan pahala untuk di akhirat kelak.

 

 

 

5. Menguatkan keimanan kepada Allah Ta’ala

Dengan bertasbih, menyebut nama Allah tentu hal itu akan membuat keimana kita semakin kuat kepada Allah Ta’ala. Yaitu lebih bertawakal kepada Allah, lebih dekat dengan Allah dengan sholat tasbih yang kita kerjakan.

Begitu besar keutamaan sholat tasbih bagi siapa pun yang melaksanakannya. Semoga kita semua dapat bersama-sama berikhtiar untuk senantiasa mengamalkan setiap amalan yang kita ketahui dengan semaksimal yang kita bisa.

 

Semoga artikel ini bermanfaat ya Juraganers!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Don\'t Copy the Content is protected by Copyright!!
%d bloggers like this: