25+ Contoh Cerpen Singkat yang Paling Lengkap Ada Disini

Contoh Cerpen Singkat yang Paling Lengkap – Salam sejahtera untuk para sahabat Juraganesia! Semoga selalu dalam keadaan baik dalam menunggu artikel-artikel dari Juragnesia yang semoga bermanfaat untuk para Juraganers yang memerlukan.

Pada kesempatan kali ini Juraganesia akan membahas tentang cerpen. Siapa sih yang tidak menyukai cerpen? cerpen adalah salah satu metode bahan bacaan yang rindu dan menghibur. Cerpen menjadi bahan bacaan yang memilki sifa fleksibel, anda dapat membaca cerpen dimana saja dan kapan saja.

Ketika anda merasa mood anda sedang buruk, cerpen juga dapat memberikan suasana yang baru untuk pembacanya melalui cerita-cerita yang menarik. Untuk anda yang sedang mencari referensi contoh cerpen yang fresh, anda tidak salah berkunjung ke Juraganesia. Langsung saja, kepada inti pembahasan kali ini, yaitu cerpen.

Juraganesia telah merangkum tentang 25+ Contoh Cerpen Singkat yang Paling Lengkap Ada disini. ini rangkuman yang sudah disiapkan, check list out Juraganers!

 

 

 

Pengertian Cerpen Menurut Bahasa dan Istilah

Cerpen merupakan singkatan dari kata cerita pendek, cerpen atau cerita pendek ini mempunyai fleksibilitas karena dilihat dari isinya cenderung singkat, padat. Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang bersifat fiktif.

Cerpen yang cenderung memiliki isi yang bersifat padat dan singkat, biasanya terdiri dari kurang lebih 10 ribu karakter atau kurang lebih hanya mencapai 10 halaman. Hal ini tentu saja yang membedakan cerpen dengan karya sastra lainnya seperti novel yang berisi cerita yang panjang dan lebih dari 10 halaman.

Merujuk dari pengertian diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang menceritakan suatu tokoh dan kehidupannya yang bersifat fiktif, melalui tulisan pendek dan singkat.

 

 

 

Jenis- Jenis Cerpen yang harus kamu tahu!

Tahukah anda para Juraganers yang bijak? Cerpen atau cerita pendek memilki berbagai jenis yang dikategorikan melalui banyaknya karakter kata dalam isi cerpen tersebut. Adapun jenis-jenis cerpen atau cerita pendek sebagai berikut :

a. Cerpen mini adalah cerita pendek dengan karakter antara 750-1.000 kata.

b. Cerpen yang ideal adalah cerita pendek dengan karakter antara 3.000-4000 kata.

c. Cerpen panjang merupakan cerita pendek dengan karakter 4000–10.000 kata.

 

 

 

 

Kumpulan cerpen paling menarik dan contohnya

Berikut ini adalah kumpulan beberapa contoh cerpen yang dapat kamu lihat dibawah ini, semoga bermanfaat!

 

 

Contoh cerpen pendidikan : Semua Berawal Dari Mimpi.

 

Judul    : Semua Berawal Dari Mimpi
Penulis : Hanif Nurmajid

 

“Tidak seperti biasanya hari ini pasienku sangat ramai, banyak pasienku yang menderita penyakit demam berdarah, walaupun sedikit lelah tetapi aku harus melayani pasien dengan baik, karena itu adalah tanggung jawabku sebagai dokter. Aku sangat senang dengan profesi ku saat ini karena bisa membantu dan menolong banyak orang.

Suatu ketika ada seorang nenek datang ke rumahku, saat itu waktu menunjukkan pukul 01:00 WIB dan aku pun sedang tertidur lelap, ia meminta tolong untuk memeriksa cucunya menderita demam tinggi.

“ assalamualaikum pak dokter “ sambil mengetuk pintu rumah.
“ waalaikumsallam, ada apa Nek ? Ada yang bisa saya bantu? “ jawabku.
“ tolong cucu saya dok, demamnya ga turun-turun dari kemarin. “ sahut nenek dengan perasaan panik.
“ kenapa ga di bawa ke rumah sakit Nek ? “ tanya aku.
“ saya ga punya uang pak “ jawab nenek.

Dan aku akhirnya memeriksa cucu nenek tersebut, lalu aku kasih obat penurun demam.

“ terimakasih dok, saya hanya uang segini. “ kata nenek sambil memegang uang Rp 15000
“ sama sama nek , ga usah uangnya simpan saja, saya ikhlas kok nek, sudah kewajiban saya
membantu orang lain “ jawab aku.

Tiba-tiba terdengar suara ‘kriiiiing kriiing”, ternya itu suara alarm jam dan aku pun terbangun dari tidurku.
“ waaaah ternyata semua itu hanya mimpi “ kata aku.

Aku adalah siswa kelas 2 SMA, cita-cita ku memang ingin menjadi dokter, alasan aku ingin menjadi dokter adalah ingin menolong orang yang tidak mampu, sama seperti ku ayahku hanya seorang petani dan ibuku seorang pembantu rumah tangga, itulah yang menyebabkan aku ingin menjadi dokter dan menjadi orang yang sukses.

Suatu hari hari ayahku jatuh sakit dan terpaksa tidak bisa bekerja menafkahi keluarga, aku sempat ingin berhenti sekolah dan Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi ibuku melarang ku untuk berhenti sekolah.

“ Bu lebih baik aku berhenti sekolah saja dan Bekerja, aku tidak tega melihat ibu bekerja sangat keras untuk memenuhi biaya berobat ayah dan sekolah ku “ kata aku.

“ jangan nak ibu masih mampu membiayai berobat ayah dan sekolah mu, kamu harus punya cita-cita yang tinggi dan jadi orang sukses, kamu fokus aja belajar jangan pikirkan biaya sekolah, itu adalah tanggung jawab ibu dan ayah “ jawab ibuku.

Perkataan ibu itulah yang membuat aku semangat dalam belajar. Tidak terasa aku sudah duduk dikelas 3 SMA, disini aku berfikir tentang masalah biaya perkuliahan kedokteran sangat lah mahal, dan orang tua ku tidak akan mungkin bisa membiayai karena biayanya mencapai puluhan bahkan ratusan juta.

Aku pun sangat bingung memikirkan masalah itu, beruntung aku mempunyai seorang guru yang sangat peduli padaku, beliau selalu memotivasi dan membantu ku, namanya Bu Dewi, seorang guru biologi, beliau sangat mendukung ku untuk melanjutkan kuliah kedokteran, karena, katanya aku sangat berprestasi di sekolah, beliau selalu memberikan informasi tentang beasiswa.

Singkat cerita, aku berhasil lulus dari SMA dan mendapatkan nilai yang memuaskan, aku pun berhasil diterima di universitas ternamaI di Indonesia fakultas orang tua ku sangat bangga atas pencapaian ku saat ini, orang tuaku selalu berpesan kepada ku agar kelak aku menjadi orang yang sukses jangan sombong dan tetap rendah hati. Perkataan itu selalu berbekas dikepala ku.

Setelah beberapa tahun aku pun lulus dan menjadi seorang dokter, sungguh perjalanan yang tidak mudah untuk mencapai semua ini, aku percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. Dan mimpiku menjadi kenyataan.

 

 

 

Contoh cerpen terbaik : Persahabatan Di Ujung Senja!

 

Judul : Persahabatan Di Penghujung Senja.

Cerpen Karangan: Yuni Annisa Hafni Rambe

 

Kini ku habiskan waktuku tanpamu di kala senja, saya merindukanmu sahabat yang jauh di sana, saya merindukanmu, saya sungguh merindukanmu. Ku hanya bisa mencurahkan isi hatiku lewat coretan-coretan kecilku ini.

Flash back..

“Cha, kau mau nggak saya panggil Juliet dan saya Romeonya?” Tanya Rangga, ya namanya memang Rangga, tepatnya Rangga Setiawan, dia ialah satria di masa kecilku.

“Hm, emang kenapa saya harus jadi Juliet dan kau Romeonya?” tanyaku.

“Hm, soalnya saya mau kau inget terus sama aku, kisah Romeo dan Juliet itu so sweet banget, Romeo rela mati demi Juliet, begitu pun sebaliknya, jadi kelak kita akan mirip Romeo dan Juliet jadi kisahnya Makara Icha dan Rangga,” jawabnya. “Ih, gak mau ah, saya belum mau mati kayak Romeo dan Juliet,” Jawabku.

“Hm, bukan gitu maksudnya, nanti Persahabatan kita akan tetap abadi, hingga janjkematian memisahkan kita, Icha dan Rangga selamanya akan tetap jadi sahabat,” ucapnya.

“hm, iya deh saya mau jadi julietnya Romeo,” Jawabku.

Keesokan harinya. Rangga tampak menungguku di kawasan biasa kami bersenda gurau bersama di kala senja. “Hey!” saya pun mengagetkannya. “Argh, Juliet mah suka usil,” ucapnya. “Habisnya melongo aja,” jawabku.

Kami pun bersenda gurau di kala senja itu menghabiskan waktu bersama mirip biasanya.. tapi entah kenapa Rangga tidak mirip biasanya, dia nampak sedih. “Cha, saya mau bilang sesuatu sama kamu,” ucapnya.

“Apa?” jawabku. “Hmm, saya sama keluargaku mau pindah, soalnya Ayahku pindah peran ke luar kota, Makara mau tidak mau saya harus ikut,” Saat mendengar itu raut wajahku seketika bermetamorfosis sedih. Aku pun beranjak dari kawasan dudukku disusul oleh Rangga. “Cha, saya kesepakatan bakalan selalu berkunjung kalau lagi liburan, Romeo Janji, Juliet..” ucapnya.

Bibirku kaku tak sanggup mengucapkan kata apa pun, sungguh ini sangat menyakitkan, saya tak sanggup kehilangan Pahlawanku, namun apa boleh buat?

Hari ini Rangga akan meninggalkanku.
“Cha, saya pergi ya! Kamu jangan sedih, saya kan udah kesepakatan bakalan kembali hanya untuk Julietnya Rangga,” ucapnya.
“Tapi, siapa nanti yang akan menghapus air mata Juliet di kala Juliet sedih, dan siapa yang akan melindungi Juliet dari angsa-angsa yang nantinya mengejar Juliet,” ucapku.

“Cha, meski Raga kita berpisah, tapi ingat Hati kita akan selalu menyatu, lagi pula Romeo udah kesepakatan bakalan kembali untuk Juliet.” Mau tidak mau saya pun merelakan kepergiannya.

(Pukul 22.00).

setelah kepergiannya, entah kenapa saya tidak bisa tidur, ada rasa kekhawatiran dalam hatiku, tidak mirip biasanya saya mirip ini, “Apa karena kepergian Rangga?” tanyaku di dalam benakku.

Namun tiba-tiba terdengar bunyi jeritan dari Ruang Tengah, saya pun keluar dari kamarku menuju sumber suara, yang ternyata berasal dari Bunda, saya pun menghampirinya, “Bun, Bunda, Bunda kenapa?” tanyaku.

“Rangga, Cha, Rangga,” jawabnya.
“Rangga.. Rangga kenapa Bunda?” tanyaku Khawatir.
“Rangga beserta keluarganya tewas dalam kecelakaan, tidak ada yang selamat,” Jawab Bunda.

Hatiku hancur berkeping-keping kala mendengar hal itu. Tak terasa air mata membasahi Pipiku. Rangga.. Tuhan Kenapa harus dia?
Sejak kepergiannya meninggalkanku untuk selamanya. Ku duduk termenung sendirian di kawasan biasa saya dan Rangga biasa menghabiskan waktu bersama di kala senja hingga di ujung Senja.

Rangga.. di mana Janji kau untuk kembali bersamaku? di mana Ngga? Rangga.. saya Janji bakalan jadiin kau Romeo di hatiku untuk selamanya. Selamat jalan sahabatku. Selamat jalan pahlawanku. Aku akan selalu mengenangmu di kala senja. Kamu akan selalu di hatiku, persahabatan kita akan tetap awet untuk selamanya. Walaupun raga memisahkan kita.

 

 

 

 

Cerpen tentang persahabatan di sekolah

Pada suatu hari aku pergi berangkat ke sekolah, sesampai ke sekolah aku bertemu dengan sahabat baik aku namanya della, nani dan lista. Menurut aku mereka adalah sahabat terbaikku karena mereka bisa membuat aku tertawa dan nyaman bersama mereka semua, dan begitu pun juga apa yang dirasakan sahabat-sahabatku itu kepada aku.

Pada suatu hari tepatnya di ruang kelas pada saat pelajaran dimulai ada seorang anak laki-laki namanya agus, anak lucu dan baik, dia teman sekelas kami, orangnya suka bercanda kepada teman-teman termasuk dengan guru pengajar pun juga dibuatnya lucu sehingga semuanya ikut tertawa melihatnya.

pada waktu itu anak laki-laki itu sedang bertanya kepada guru pengajar tentang pelajaran, entah kenapa teman-teman tertawa melihat anak laki-laki itu bertanya dengan gaya khasnya, dengan suara yang agak terbata-bata dan dengan pertanyaan yang sedikit kurang masuk akal, sehingga membuat teman-teman tertawa mendengarnya, namun semua itu tidak masalah bagi anak laki-laki itu, karena dia merasa senang bisa membuat semua orang tertawa dengan kehadirannya itu.

Lalu setelah berjalannya waktu terdengar bunyi lonceng dari luar kelas yang menandakan jam istirahat telah tiba dan pelajaran pun telah berakhir, dan pada saat waktu istirahat tiba.

Tiba-tiba anak laki-laki itu langsung terdiam dan merenung di dalam kelas, entah kenapa, karena dia merasa bahwa dirinya sedang tidak mempunyai uang untuk belanja ke kantin seperti teman-teman yang lain, lalu aku dan sahabat-sahabat aku datang menghampirinya dan menanyakan sesuatu apa yang terjadi dengan anak laki-laki itu sehingga membuat dia murung setelah mendengar waktu istirahat telah tiba.

Pada akhirnya dia menceritakan kepada kami semua, bahwa dirinya sedang tidak mempunyai uang untuk belanja di kantin, dan pada saat itu aku dan sahabat aku berniat untuk membantu dia, agar dia bisa belanja di kantin seperti teman-teman yang lain, dan akhirnya dia tidak merasa sedih lagi karena dia sudah mempunyai uang untuk belanja di kantin, dari pemberian kami semua dan pada akhirnya kami pun ikut senang bisa melihat dia ceria lagi dan bisa membantu dia, dari segala kekurangannya.

Cerpen Karangan : Raudatul Jannah

 

 

 

Cerita pendek dalam bahasa inggris

 

The Legend Of Malin Kundang

Long time ago, in a tiny town near the coastline in West Sumatera, lived a female and her son, Malin Kundang. Malin Kundang’s papa had actually died when he was a child, as well as he had to live tough with his mom. Malin Kundang was a healthy, diligent, and also strong kid. He generally went to the sea to capture fish, as well as brought it to his mommy, or offered it in the community.

One day, when Malin Kundang was cruising customarily, he saw a vendor’s ship which was being raided by a tiny band of pirates. With his take on and also power, Malin Kundang beat the pirates. The merchant was so happy and also asked Malin Kundang to cruise with him. Malin Kundang agreed.

Several years later on, Malin Kundang ended up being a wealthy seller, with a substantial ship, lots of trading goods, numerous ship crews, as well as a beautiful wife. In his journey, his ship arrived on a coastline. The citizens recognized him, and the news ran quick in the community: Malin Kundang came to be an abundant male and now he is right here. His mother, in deepful sadnees after years of isolation, ran to the beach to fulfill her precious boy once again.

When the mom came, Malin Kundang, in front of his well dressed other half, his teams and his own glory, rejected to satisfy that old, poor and filthy woman. For three times she pledge Malin Kundang and also for three times yelled at him. At last Malin Kundang said to her “Enough, old female! I have actually never ever had a mom like you, an unclean and also ugly peasant!” After that he bought his teams to set out.

Angered, she cursed Malin Kundang that he would certainly turn into a stone if he didn’t apologize. Malin Kundang simply giggled as well as set sail.

In the quiet sea, unexpectedly an electrical storm came. His substantial ship was damaged and it was far too late for Malin Kundang to said sorry. He was thrown by the wave out of his ship, fell on a tiny island, and instantly transformed into rock.

sumber : https://borneochannel.com/

 

 

 

Contoh cerpen pengalaman, Romantis!

 

Bersama Nya Sedikit Lebih Lama

Hari seperti biasa di ruang kantor baru ku, maklum kantor ku baru pindah tempat dari ruko yang kecil nan sumpek. Hari ini adalah hari pertama untuk kedua staf baru ku di divisi keuangan. Salah satu nya yaitu yuli, dia orang yang aktif dan mudah bergaul.

Satu minggu setelah hari pertama nya ia langsung mengajak aku dan 2 orang temanku untuk berkaraoke bersama. Akhir nya kami pun berangkat karaoke berempat yaitu aku, yuli, antoni dan wanita yang aku sayangi afifa. Selesai kami karaoke, aku dan afifa tidak langsung pulang, kami berdua mencari tempat makan yang dekat dengan tempat karaoke tersebut, karena anton dan yuli sudah harus pulang ke rumah terlebih dahulu.

Semenjak kejadian malam itu aku dan afifa sering bbman (blackberry messenger) bahkan di ruang kantor yang hanya berjarak 2 meter denganku, kami sering bbman. Semakin hari perasaan ku semakin kuat dan yakin kalau aku benar benar sayang pada afifa.

Tapi perlu aku perjelas bahwa afifa baru saja bercerai dari suami nya, dan ia sedang mengurus surat surat perceraian nya. Satu lagi, ia sudah memiliki anak berumur 2 tahun bernama rara. Umurku yang terpaut jauh dari nya membuat ku merasa bahwa ia tak mungkin melirik ku untuk berhubungan serius dengan nya.

Semenjak kejadian di karaoke itu pula kadang aku dan afifa sering pergi berdua selesai jam kerja atau saat jam istirahat, tak ada orang kantor yang curiga melihat kami pergi berdua karena memang umur ku yang 20 tahun sedangkan dia 37 tahun terlihat seperti kakak dan adik, tapi perasaan ku berkata lain, afifa adalah wanita yang memancarkan kenyamanan untuk ku.

Hari ulang tahun ku semakin dekat, aku pun berencana mengajak afifa untuk merayakan ulang tahunku dengan menonton di bioskop dan dia menyetujui ajakan ku. Informasi tambahan, bahwa aku bekerja sambil kuliah malam.

Saat hari ulang tahunku, aku pun ternyata ada ujian di malam hari. Maka saat siang hari sebelum ujian aku memberitahu afifa bahwa aku bisa pergi dengan nya di malam hari setelah ujian ku selesai, ternyata dia tidak bisa karena jika sudah pulang ke rumah, anak nya tidak mau lepas dari nya. Aku pun terpaksa mengatakan batal dan menunda nya sampai 3 hari setelah semua ujian ku selesai.

Akhir nya usai jam kantor aku pun bergegas menuju kampus untuk ujian. Seusai ujian aku pun duduk di lingkaran kampus bersama teman teman ku sambil beberapa teman ku mengucapkan selamat ulang tahun, tiba tiba hp ku berdering dan ternyata afifa menghubungi ku “jul, kamu di mana? Aku lagi di p*ri nih, aku tunggu kamu di xxi ia”.

Tanpa basa basi aku langsung menjawab “kamu mau tungguin aku? Aku bisa sedikit lama, kampus aku kan jauh dari p*ri”, “ga apa apa, aku tunggu kamu di xxi aja”. Seperti dapat berlian rasa nya, bahagia banget ternyata dia mau menunggu ku dari jam pulang kantor sampai ujian ku selesai di hari ulang tahunku ini.

Aku pun bergegas beranjak ke tempat dia menunggu ku. Sesampai nya di sana, ternyata dia sedang menunggu ku sambil menyeruput minuman yang segar sekali kelihatan nya. Aku pun duduk dan bertanya “kok kamu bisa di sini?” dia pun menjelaskan panjang lebar kepadaku bahwa seusai jam kantor tadi, dia menghubungi teman nya untuk menemani dia jalan jalan di mall alasan ke teman nya yaitu karena dia sedang bosan, padahal sebetul nya dia menunggu ku selesai ujian.

Karena kalau dia menunggu ku di rumah dan menjemput nya untuk keluar lagi pasti tidak akan bisa, karena anak nya tidak mau di tinggal. Dalam hati aku pun berteriak kegirangan karena dia mau menunggu ku hampir 3 jam seusai jam kantor hanya untuk merayakan ulang tahun ku tepat di hari ulang tahunku bukan di hari lain karena tertunda.

Akhir nya kami pun jalan jalan di mall dan berakhir di kedai kopi yang aku suka. Dia menunjukan foto suami nya yang sudah menikah lagi, padahal surat percerain nya pun belum selesai. Aku melihat sedikit kesedihan terpancar dari mata nya, aku ingin memeluk nya sebagai teman, tapi aku takut dia bernaggapan lain dan memarahi ku “dasar pria beregs*k” pikirku.

Kami pun sering berjalan jalan seusai jam kantor, kadang mencari dvd, makan sore dan pernah setelah mencari dvd kami makan soto di pingiran dan kami kehujanan saat dalam perjalanan pulang, saat itu juga dia memeluk ku erat *perasaan ku bercampur antara senang dan kebingungan.

Akhir nya aku katakan lewat bbm bahwa aku menyanyangi nya lebih dari sekedar teman, tapi dia menjawab “kamu ga salah ngomong? Aku kaget denger nya, perjalanan kamu masih panjang, jangan jatuh di orang yang salah” *jegerrr bagaikan di sambar petir 70.000 volt, seketika itu aku galau. Semenjak kejadian itu aku takut dia berubah tapi dia selalu mengatakan bahwa ia berjanji tidak akan berubah asal aku tidak ada perasaan apa apa lagi.

Sekitar 2 minggu kami layak nya benar benar teman kantor, jarang bertegur sapa, berbicara seperlu nya. Tidak tahan dengan keadaan seperti ini aku pun mulai berani membuka pembicaran dengan menawarkan diri lagi untuk menjemput nya saat berangkat ke kantor.

Aku pun mulai dekat lagi dengan nya, kadang aku bingung, dia menyuruh ku seakan akan untuk melupakan perasaan itu tetapi perlakuan dia saat kami dekat lagi, itu lebih dari sekedar teman, aku pun hanya bisa menerima semua itu karena perlakuan dia itu pun membuat ku nyaman.

Hari ini kami berencana untuk menonton bioskop bersama sama, masih seperti dulu yaitu aku, afifa, anton dan yuli, karena dari sekian banyak staff, hanya kami yang suka jalan jalan. Saat memasuki bioskop aku pun memegang tangan nya agar dia tidak jatuh saat di geser geser oleh orang lain ketika memasuki gedung bioskop.

Selama film berlangsung tangan nya selalu memegang pergelangan tangan ku *tuhan, kenapa kalau dia ga sayang, kok tangan nya selalu memegang tangan ku. Selesai nonton bioskop aku pun memegang tangan nya kembali saat keluar dari gedung bioskop. Aku pun mengantarkan nya sampai depan pintu apartemen nya, karena tadi kami menonton film horor jadi dia sedikit takut untuk naik lift dan melewati lorong sendirian.

Sampai hari ini kadang kami suka bertengkar karena aku cemburu saat dia di antar pulang oleh staf nya, kadang kami masih sering bbman walaupun aku tahu saat nya nanti akan datang, yaitu saat dia memiliki suami dan ayah baru untuk anak nya, karena dia tidak mungkin memilih aku untuk menjadi suami nya di umur ku yang masih 20 tahun ini. “aku dan dia tidak mungkin bersama selamanya tapi aku rela patah hati hanya untuk bisa bersama nya sedikit lebih lama”.

Aku masih dekat dengan dia sampai saat aku menulis cerita ini, entah apa yang akan aku rasakan jika nanti ia mendapatkan laki laki yang ia pilih untuk menjadi suami nya. seperti judul cerpen ku “Aku dan dia tidak mungkin bersama selamanya tapi aku rela patah hati hanya untuk bisa BERSAMA NYA SEDIKIT LEBIH LAMA”.

Oleh: Yulius Wijaya

 

 

 

Cerpen anak sekolah Simpel!

 

Hari-hariku di Sekolah

Pada waktu sekolah, saya merasa senang sekali bisa belajar di ruangan kelas yang sejuk, pada pagi hari yang indah ini, hati riang seperti pagi merindukan matahari, oh senangnya saya bisa belajar dengan teman-teman yang kadang-kadang ngesali dan nyenagi hati, pada saat belajar matematika oh membuat jantung saya meledak dengan rumus-rumusnya, begitu juga dengan pelajaran kimia, fisika dan bahasa inggris.

Pada waktu istirahat, oh leganya bisa melewatkan pelajaran yang mematahkan semangat dengan rumus-rumusnya, saya keluar dari kelas untuk menenangkan perut yang kosong, saat sampai ke kantin, aduh saya lupa bawa uang jajan, lalu saya kesal seperti api yang menyambar air, ya sudahlah itu memang kesalahan saya bagaimana pun saya harus menerima resiko ini, datanglah teman baik saya ia mentraktir saya makan, lalu hati ini bergejola seperti air yang menyambar api, dengan senangnya, saya mengucapkan terima kasih untuk best friend saya.

Pada waktu masuk ke kelas, saya merasa takut dengan pelajaran rumus-rumus itu, tiba-tiba di kelas belajar Bahasa Indonesia oh senangnya hati saya seperti malam merindukan bulan, oh senangnya gak ketemu sama rumus-rumus menjengkelkan itu, saya sangat bahagia belajar tanpa rumus, hati riang membelah angkasa, tiba-tiba bel berbunyi, yeee pulang, baca doa, beri hormat pada guru, lalu pulang ke rumah dengan hati yang membisik langit.

Cerpen Karangan: M. Wahyudi

 

 

 

Cerpen cinta romantis Parah!

 

Tatapan Lima Detik

“Viola Agrenata, aku mencintaimu lebih dari yang kau bayangkan. Menyayangimu sampai ke titik maksimal yang aku punya. Ingin selalu bersamamu sampai akhir hidupku. Berjanji untuk selalu berusaha melindungimu. Aku serahkan hatiku padamu untuk kau jadikan sebagai bukti kalau aku tidak mau jauh darimu. Jangan pernah tinggalkan aku. Karena aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu yang bahkan tidak ada di imajinasi terliarku. Aku tidak pernah membayangkan kau akan berada di sisiku. Mengatakan dan melakukan hal-hal romantis setiap hari, setiap bangun tidur. Selalu melindungiku, bahkan tanpa sepengetahuanku kau sudah diam-diam melindungiku. Aku tidak mungkin meninggalkan orang yang sangat aku sayang, pelindungku, Rayner Erliyandi.”

Mereka saling tatap dengan senyum merekah di wajah masing-masing. Lima detik kemudian, senyum itu digantikan dengan gelak tawa. Menertawakan kalimat-kalimat sendiri, itulah yang sedang mereka lakukan.

Itu memang sudah menjadi rutinitas wajib mereka setiap akhir pekan. Menikmati udara pagi di halaman belakang, ditemani coklat hangat. Saling mengucapkan kalimat-kalimat romantis, lalu tertawa bersama. Lalu tidak sampai tiga menit, suasana damai kembali tercipta. Masing-masing menikmati indahnya pagi. Aneh memang, tapi itulah mereka.

Vio menyesap coklatnya dengan masih mengenakan piyama Hello Kitty. Sedangkan Ray sudah senyum-senyum sendiri –menahan tawanya lagi- melihat wanita cantik di depannya. Bagaimana tidak ingin tertawa kalau melihat wanita umur 26 tahun yang sudah bersuami masih mengenakan piyama Hello Kitty?

Itu sangat menggelikan bagi Ray sekaligus hal yang membuatnya makin jatuh cinta terhadap wanitanya. Wanita yang beda dari wanita kebanyakan.

Vio menyadari kelakuan suami tercintanya yang akan tertawa, tapi dia hanya mengabaikannya dan tetap menyesap coklat hangatnya sambil menutup mata untuk lebih menikmati coklatnya. Dia hanya tidak ingin suasana akhir pekan mereka diisi dengan hal-hal yang tidak berguna.

“Kau masih saja suka coklat” Ray memulai pembicaraan setelah berhasil mengendalikan ekspresinya. Dia sudah kembali santai setelah sempat menahan tawanya.

“Selamanya akan suka coklat.”

Mendengar itu, Ray kembali teringat ke kejadian empat tahun silam, sebelum mereka memutuskan untuk melangkah ke tahap yang paling serius dalam suatu hubungan. Kejadian di mana dia dibuat gila oleh wanita yang sangat dicintainya itu. Bayangkan saja, dia hampir ditolak di depan semua mahasiswi/mahasiswa kampusnya di Swiss sana.

Saat itu, Ray sudah duduk di bangku kuliah semester akhir. Sedangkan Vio masih semester lima. Meskipun beda angkatan, tapi mereka di jurusan yang sama. Vio sering meminta bantuan kepada Ray masalah tugas. Dan Ray dengan senang hati akan membantu, asalkan Vio mau menemaninya keluar untuk jalan-jalan di negara orang.

Mereka pertama kali bertemu di kampus saat tidak sengaja Vio mengumpat memakai bahasa negaranya di hari pertamanya masuk kampus. Ray yang mendengar itu langsung menghampiri Vio dan menanyakan asal negaranya. Dan mulai saat itulah mereka akrab karena ternyata sama negara.

Memang sulit menemukan orang yang berasal dari negara mereka di kampus itu. Karena seringnya mereka bertemu di kampus maupun di luar, tanpa sadar mulai tumbuh benih-benih cinta dalam hati Ray kepada Vio.

Tapi karena sifat pengecutnya Ray, dia tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Vio. Dia takut Vio akan menjauhinya karena perasaannya. Jadilah dia masih memendam perasaannya saat itu.

Suatu malam mereka keluar lagi. Mereka berjalan kaki di pinggir kota, berbaur dengan orang asing yang memang selalu ramai jika malam minggu. Mereka singgah di cafe yang buka 24 jam. Entah kenapa perbincangan malam itu berkisar tentang masa sekolah. Sekitar satu jam membicarakan tentang kenangan-kenangan masa sekolah. Dan akhirnya satu fakta terungkap malam itu. Fakta yang ternyata tidak pernah mereka sadari sebelumnya.

“Lucunya lagi Ray, bahkan aku hanya mengenal teman seangkatanku saja. Itu pun hanya sebagian saja. Maklumlah, SMA Pratama itu kan luas dan muridanya banyak banget, Mana bisa tau semuanya.” Cerita Vio terkekeh sambil meminum coklat hangat yang dipesannya.

“Kamu sekolah di Pratama?” ada raut kaget di wajah Ray.
“Iya, kamu pasti tau sekolah itu kan? Itu sekolah nomor satu di Ibukota.”
“Aku juga sekolah di situ Vio.”
“Apa?!” Seru Vio kaget, berhasil membuatnya terbatuk sebentar karena tadinya dia sedang minum.

Ray dengan cepat memberikan air putih, Vio menerimanya dan langsung meminumnya. “Baikan?” tanya Ray khawatir. Vio hanya mengangguk.

“Kita satu sekolah.” Ulang Ray karena Vio masih memandangnya kaget.
“Jangan bilang kalau kamu yang naik ke panggung memberikan sambutan waktu acara Reuni itu?”
“Itu memang aku, Vio” Vio makin kaget. Matanya sudah seperti mau keluar. “Dan jangan bilang kalau kamu yang memakai kostum Hello Kitty saat itu?” lanjut Ray yang menduga-duga tentang masa lalu itu.
“Itu memang aku, Ray” ucap Vio sudah tidak bisa berpikir dengan fakta yang ada. Bukan karena mereka ternyata satu sekolah, tapi lebih kepada ternyata Ray adalah cinta pada tatapan lima detiknya.

Saat acara reuni itu Vio dan Ray memang pernah bertemu. Bukan bertemu sebenarnya, tapi hanya saling tatap kurang lebih lima detik. Tapi tatapan lima detik itu membuat Vio jatuh cinta. Sosok yang tinggi, alisnya tebal, matanya warnah hitam pekat, hidung mancung, dan bibir yang indah. Sosok sempurna di mata Vio.

Tapi seiring berlalunya waktu, Vio sudah melupakannya karena tidak pernah bertemu lagi. Saat pertama bertemu Ray di kampus pun dia tidak pernah berpikir kalau ternyata cinta tatapan lima detiknya adalah Ray.

Sisa malam itu mereka habiskan dalam diam. Berjalan menyusuri jalan pulang dengan ditemani suara langkah kaki dan dinginnya malam. Dalam hati, Ray berjanji tidak akan pengecut lagi terhadap perasaannya. Setelah mengetahui bahwa Vio adalah si Hello Kitty, dia akan melangkah maju, memperjuangkan perasaannya.

Dan benar saja, esok harinya Ray langsung bertindak. Mengumpulkan semua mahasiswa/mahasiswi kampusnya di lapangan utama kampus. Dan dengan lantang mengungkapkan cintanya kepada Vio. Vio yang sangat malu saat itu, segera berbalik dan ingin segera meninggalkan lapangan. Ray yang khawatir langsung mengejar Vio, meraih tangan Vio.

“Vio, aku benar-benar mencintaimu. Hari-hariku di kampus ini sangat menyenangkan karena kamu. Kamu adalah senyumku, sedihku, bahagiaku. Kau mengajariku apa artinya takut kehilangan. Dua setengah tahun kita selalu bersama di sini, itu sudah cukup untuk membuatku jatuh cinta kepadamu”

Ray membalikkan tubuh Vio yang masih membelakanginya saat dia mengucapkan isi hatinya. Mereka saling bertatapan lama. Ray mengeluarkan boneka Hello Kitty dan coklat Toblerone dari tasnya, lalu memberikannya kepada Vio. Vio menatap dua benda itu dengan takjub. Perasaannya campur aduk. Senang, bahagia, terharu. Dia juga mencintai Ray, itulah yang tertangkap darinya.

Vio mengambil boneka dan coklat yang diberikan Ray, tersenyum. Dia lalu dengan berani memeluk Ray dengan erat. Semua yang melihat itu bertepuk tangan meskipun tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan Ray. Ray menjadi orang yang paling bahagia saat itu. Bukan hanya Ray, tapi Vio juga.

“Ngelamunin apa, papa?”

Ray tersentak saat purti satu-satunya yang masih berusia 2 tahun itu naik ke pangkuannya. Ray hanya tersenyum kepada putrinya dan memandang wanitanya yang juga tersenyum. Mereka bahagia.

Cerpen Karangan: Yulia Pratiwi

 

 

 

Cerita pendek motivasi kerja, Inspiratif Banget!

 

Setiap orang Memiliki Kisah Hidup

Seorang lelaki berusia 24 tahun sedang berada di kereta api bersama dengan ayahnya. Ia melihat keluar melalui jendela kereta api dan berteriak,

“Ayah, lihat pohon-pohon itu berjalan!”

Ayahnya tersenyum, namun pasangan muda yang duduk di dekatnya, memandang perilaku kekanak-kanakan lelaki yang berusia 24 tahun dengan kasihan. Tiba-tiba lelaki tersebut kembali berseru …

“Ayah, awan itu terlihat berlari mengejar kita!”

Pasangan ini tidak bisa menahan rasa risih mereka dan berkata kepada orang tua lelaki tersebut,

“Mengapa anda tidak membawa anak anda ke dokter ahli jiwa?” Orang tua itu tersenyum dan berkata…
“Saya sudah membawanya ke dokter, dan kami baru saja pulang dari Rumah Sakit. Anak saya buta sejak lahir, dia baru bisa mendapatkan donor mata dan baru bisa melihat hari ini”.

Setiap orang di dunia ini memiliki sebuah cerita tersendiri. Jangan menilai orang lain sebelum anda benar-benar mengenal mereka. Karena kenyataannya yang terjadi mungkin dapat mengejutkan anda

sumber : http://successbefore30.co.id/5

 

 

 

 

Cerpen persahabatan, paling Mengharukan!

 

Sahabat Yang Kurindukan

Namaku Vania aku mempunyai seorang sahabat bernama Jihan dia baik, cantik dan juga pintar aku memang baru mengenalnya tapi dia sosok sahabat yang baik yang pernah aku kenal. Saat pertama kali aku bertemu dengannya dia membantu masalah yang aku alami waktu itu dia menolongku untuk keluar dari masalah yang aku alami.

Dia satu sekolah denganku dan juga sekelas tentunya. Setiap jam istirahat kami selalu menghabiskan waktu bersama. Kadang aku menjadi sesorang yang gila saat aku bersamanya, tertawa bersama melakukan hal-hal seperti layaknya anak kecil bermain petak umpet dan lain sebagainya padahal umur kami sudah belasan tahun tapi kami menjadi kekanak-kanakan saat kami bersama.

Kami jarang bermain gadget seperti remaja pada umumnya kami lebih senang bermain mainan tradisional dan kekanak-kanakan. Aku sering bermain ke rumahnya menghabiskan waktu di rumahnya begitupun dengan dia, dia selalu bermain di rumahku. Hingga orangtuaku menganggapnya sebagai anaknya sendiri begitupun dengan dia.

Sampai tiba saatnya. Di hari pertama kita bertemu pada tanggal 29 januari, saat itu kami sudah 3 tahun bersama, tapi tiba-tiba saja dia berubah dia melupakan kenangan demi kenangan yang kami bangun bersama. Dia melupakanku layaknya seseorang yang tidak mengenalku sama sekali.

Saat itu pagi-pagi sekali aku sudah ada di sekolah berniat untuk mengucapkan hari jadi persahabatan kami. Tapi saat aku mengucapkan kata demi kata “selamat hari jadi sahabatku tersayang” dia hanya meresponku dengan senyuman yang melekat pada bibirnya.
Istirahat pun tiba, aku mengajaknya untuk pergi ke kantin bersamaku tapi dia tidak ingin ke kantin bersamaku. Aku pun berusaha untuk menenangkan hatiku dan bersabar.

“Mungkin ia lagi banyak masalah jadi ingin menyendiri dulu” Gumamku dalam hati.

Hari berlalu begitu cepat tapi keadaannya masih sama seperti beberapa hari yang lalu dia masih menyendiri. Hingga aku bulatkan tekadku untuk berbicara dengannya saat pulang sekolah tiba “TET… TET.. TET…” Bel sekolah pun dibunyikan. Aku pergi ke suatu tempat dan mengobrol dengannya.

“Jihan, ada apa denganmu akhir-akhir ini kamu sering menyendiri. Lagi ada masalah ya?, cerita aja siapa tau aku bisa membantumu” Ucapku
“Iya aku emang lagi ada masalah” kata Jihan
“apa masalahnya?”
“Masalahnya adalah kamu”
“Aku? apa maksudmu?”
“Iya kamu karena orangtuaku selalu saja memujimu saat kau datang ke rumahku PUAS!”

JIhan pergi meninggalkanku dengan memberiku luka yang amat besar kepadaku. Aku menangis tersedu-sedu aku tidak mengerti kenapa ini semua terjadi padaku. Aku pulang dengan perasaan yang sanat sedih sepanjang hari aku mengurung di kamar sambil menangis.

“Tuhan, kenapa ini harus terjadi kepadaku? Sungguh aku tak mengerti dengan apa yang kau lakukan ini kepadaku. Apakah kau menghukumku? Jangan hukumku seperti ini tuhan…” Ucapku.

Hari berlalu begitu cepat. Dengan cepat dia melupakanku dan sudah mempunyai sahabat yang baru. Dan aku begitu lemah aku tak berdaya. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Aku Merindukanmu, Sahabatku!

Cerpen Karangan: Khoirotunnisa

 

 

 

Cerpen singkat lucu, Siap- siap nahan ketawa!

 

SALAH NURUNIN RESLETING

Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.

Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.

Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.

Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.

“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”

Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”

 

 

 

Cerpen kehidupan, Terharu!

 

Generasi Bedebah

Belasan sepeda motor terparkir rapi, bau rok*k dan suara gelak tawa belasan remaja yang masih mengenakan seragam putih abu-abu menyelimuti suasana malam itu. Mereka tertawa, berbincang tanpa haluan, mengkritik sana sini, bahkan mengkritik sesuatu yang tak pantas untuk kritik. Hal ini mengingatkanku sepuluh tahun silam. Bukan apa-apa, tapi aku pernah menjadi seperti mereka.

Sama seperti saat ini, di tempat yang sama, bau yang sama, seragam yang sama, namun generasi yang berbeda. Saat itu umurku baru menginjak 17 tahun, saat aku mengenal dunia luar. Kami dianggap sebagai para pelajar nakal. Dengan nilai pas pasan namun kelakuan di atas batas wajar.

Merok*k, tawuran, bahkan mengerjai guru yang tak kami suka adalah hal yang biasa bagi kami semua, para Bedebah sekolah berkumpul di tempat ini. Di sebelah tempat pembuangan akhir yang sepi. Di mana kami bisa melakukan hal apapun semau kami.

Tak perlu nama untuk geng kami, cukup dengan sebutan “Bedebah”. Mungkin julukan yang cocok untuk kami. Salah satu anggota “Bedebah” itu adalah aku, Andika. Putra dari kepala sekolah dimana para “Bedebah” ini menuntut ilmu, tidak lebih tepatnya membuat onar.

Dan bukan hal baru, kebanyakan dari kami lahir dari keluarga berkecukupan, mungkin broken home. Atau seseorang yang dipaksa. Dan sebagian adalah anak anak cupu yang baru keluar kandang, anak anak yang dulunya manis dan penurut yang mulai terpengaruh dan terjebak dalam rasa keingin tahuan mereka sendiri. Aku mungkin termasuk dalam salah satu anak yang dipaksa.

Ayahku seorang kepala sekolah, dan kakakku seorang polisi. Keluaga kami berkecukupan, namun ibuku telah meninggal sejak aku SMP, dan aku kira setelah ia meninggal tak ada lagi yang bisa mengerti apa kemauanku.

Suatu hari yang sedikit berbeda, para “Bedebah” terlibat perkelahian antar sekolah. Masalah sepele, salah satu di antara kami terlibat masalah dengan sekolah seberang. Sebagai bentuk kesetia kawanan kami menyerang balik. Tanpa tahu dengan menyelamatkan salah satu teman kami dan harga diri kami. Belasan orang jadi korban, nama sekolah dipertaruhkan. Sungguh para Bedebah.

Hingga suatu hari giliranku masuk ruang BK setelah kawan kawan Bedebahku juga masuk ke sana, aku kira ada sesuatu yang janggal. Sudah berapa kali aku buat masalah tapi baru kali ini “mereka” berani memanggilku ke ruang BK.

“wah wah, sudah datang rupanya, sang pangeran” kata seseorang yang sebelumnya tak pernah kutemui.

Aku tersenyum, menganggap remeh orang ini. Aku merasa punya kekuasaan, karena Ayahku seorang Kepsek. Duduk santai di sofa empuk ruangan ber AC ini. Cukup nyaman kurasa, tak apalah aku di sini sementara waktu dari pada mendengar dongeng para guru di kelas.

“Andika, kelas IPA 3. Apa keinginanmu sebenarnya?” Tanya orang itu dengan santai pula.
“keinginan saya?, banyak sekali lah pak” jawabku asal dengan mata terpejam, meremehkan.
“sepertinya kamu ingin membersihkan toilet di seluruh SMA ini, bersama teman teman kamu yang bandel itu” katanya lagi dengan mendekatkan wajahnya, mengamatiku.
“coba saja kalau bapak berani, ingat lo pak, saya ini anak dari kepsek” tantangku dengan nada menyindir.
“bisa, sebentar” lalu pak guru berkumis tipis itu mengambil sesuatu di laci mejanya.
“lihat ini baik baik” ia mengeluarkan sebuah surat pernyataan.

Mataku terbelalak kaget membaca surat itu, di sana tertera jelas kalimat “ saya sebagai orangtua dari Andika Setiawan menyerakhan sepenuhnya anak saya pada pihak bimbingan konseling, jika anak saya berbuat kesalahan maka saya rela jika anak saya mendapatkan hukuman yang setimpal”

“bapak jangan main main, ayah saya tidak mungkin membuat pernyataan ini”
“lhah kamu tidak lihat tanda tangannya to?” dengan sigap surat pernyataan itu berpindah tangan, dengan cermat aku mengamati tanda tangan itu. Dan memang benar yang terukir di kertas itu adalah tanda tangan ayahku.
“nah, sekarang waktunya kamu dan teman teman kamu membersihkan kamar mandi, silahkan. Kalau tidak bersih ya terpaksa ditambah hukumannya, kalau tidak mau ya terpaksa tidak naik kelas. Saya lihat nilai kamu dan teman teman kamu itu sangat pas pasan, jadi bukan hal sulit untuk membuat kalian tidak naik kelas” katanya dengan nada balas mengejek.

Dengan raut muka kesal segera kulangkahkan kakiku. Keluar dari ruangan BK. Ruangan ber AC itu tiba tiba menjadi tak nyaman.
Ketika itu seperti biasa aku dan kawan kawan “Bedebah” berkumpul, saling bertukar cerita, kenakalan kami sewaktu mengerjai guru pengajar.

Sore itu sedikit mendung, musim hujan di Blitar membuat suasana semakin nyaman. Dingin, namun tak terlalu membuat beku. Di kota kesayangan, kami berulah, membuat mereka kewalahan. Kepala orang orang itu selalu bergidik karena kumpulan “Bedebah” ini.
Awalnya kami hanya senang senang layaknya siswa siswa lain, menceritakan sesuatu dalam batas wajar.

Namun seiring berjalanya waktu, rasa canggung itu sirna dengan sendirinya, ketika salah satu dari kami bercerita tak wajar, kami tetap membiarkan, berfikir bahwa kamilah yang tak normal. Dan pada akhirnya kami menjadi terbiasa.

Begitupun saat ini, rok*k adalah cemilan baru kami, dan anehnya kami merasa biasa. Seperti saat pertama kali kami bercerita dengan suguhan kacang. Kali ini kami juga sedang bercerita namun dengan suguhan yang sedikit berbeda.

Bukan berarti semua dari kami menikmati camilan itu salah satunya aku. Karena aku tidak mau jika harus masuk ke rumah sakit, mencium bau obat obatan yang sangat kubenci karena asmaku kambuh.

Ditengah tengah keasikan kami mengobrol tiba tiba aku merasa ada yang menarik telingaku dari belakang.

“ah, sakit sakit” teriakku karena jeweran pak Adnan yang lumayan.
“sakitan mana sama disuntik jarum dan mencium bau obat obatan di rumah sakit, mau kamu Dika” jawab Pak Adnan santai.
“apaan sih pak” ucapku sembari melepas telingaku yang masih berada di wilayah kekuasaan pak Andan.
Entahlah guru BK baru ini tahu dari mana hal yang paling aku takuti. Rumah sakit.
“bubar bubar semua, pulang ke rumah masing masing” teriak pak Adnan mengusir kami para “bedebah” yang sedang nongkrong ini.
“kalau mau buat yang jelek itu mbok ya di lepas dulu seragamnya, bahkan kalau bisa operasi plastik dulu wajahnya biar gak keliatan kamu itu anak sekolah sini, biar gak malu maluin gitu lo” cerocos Pak Adnan yang mulai membuatku geram.

Alhasil karena kami tertangkap basah Guru BK baru itu kami pun langsung buyar pulang ke rumah masing masing.
Di rumah kemarahanku pada Pak Adnan belum usai, aku mengoceh sebal menyalahkan ayah kenapa guru seperti pak Adnan di pekerjakan.

Namun tanggapan ayah selalu sama “ayahmu ini bukan apa apa, Cuma kepala sekolah. Mana bisa ayah buat keputusan seperti itu” lalu ayah pergi. Keesokan harinya takhenti hentinya aku dan kawan kawan Bedebahku membicarakan Pak Adnan.

“emang dia gak tau kalo kita kita ini anak petinggi di daerah ini, sampai sampai berani ngatur ngatur kita” ucap Reno seorang anak dari anggota DPR.

“sepertinya kita harus kasih pelajaran ke guru baru itu, supaya dia kapok dan gak gangguin kita lagi” ucap Doni si anak Menteri.
“gimana caranya, atau kita diem aja sampai kita lulus, kan kalo kita diem Pak Adnan gak bakal ganggu kita lagi.” Usul si jono, anak pengusaha lontong sayur yang terkenal sejagat raya yang otaknya emang agak kendor. Tapi dari hati paling dalam aku menyetujui pendapat Jono ini.

“ya nggak lah, justru kita harus bikin ulah sebesar besarnya, supaya dia sadar kalau dia itu gak bisa mainin kita” jawab Roni si anak Jendral.
“gimana dik, setuju gak,?” Tanya Doni padaku yang dari tadi diam saja.
“boleh juga” ucapku sambil melangkahkan kaki pergi

Entahlah aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, seperti apa yang aku lakukan ini akan mempunyai dampak yang nggak baik, tapi masa bodohlah. Yang terpenting sekarang adalah ngurus guru baru itu dulu.

Setelah menyusun rencana untuk buat rusuh, dan sampailah ide buat tawuran sama sekolah sebelah. Ide itu datang dari Doni yang bilang dia baru aja diketawain sama anak sekolah sebelah gara gara dia jatuh dari motornya di depan gerbang sekolah sebelah (padahal yang nolongin dia juga murid dari sekolah sebelah). Alhasil kejadian itu dijadikan alasan untuk memulai kerusuhan dengan sekolah sebelah.

Jangan Tanya soal mancing kerusuhan, Andika si anak Kepala sekolah ini jagonya. Teriak teriak mengumpat di depan sekolah sebelah adalah cara jitu buat kerusuhan, tak butuh waktu lama anak anak sekolah sebelah udah pada keluar, tinggal kita para “Bedebah” yang mulai lempari batu, akhirnya tawuran pun terjadi tanpa kami para “Bedebah” tahu anak anak yang tadi ngetawain Doni lagi nonton di gedung paling atas, dan pastinya mereka juga tertawa terbahak bahak karena tingkah para “bedebah” yang gak ngerasa kalau sudah dijadikan pion untuk memporak porandakan bangsa. Sedangkan anak anak sekolah sebelah pun juga gak sadar mereka tawuran buat apa, nyatanya mereka ngikut aja.

Entah sudah berapa kali “bedebah” buat ulah. Bahkan ada satu kenakalan mereka yaitu tawuran yang sampai ditangani oleh pihak kepolisian. Namun semua kenakalan mereka berakhir tragis. Di sekolah mereka dihukum dan di rumah mereka diomeli habis habisan oleh orangtua masing masing.

Sampailah pada suatu hari dimana mereka menerima rapor. Tidak seperti kebanyakan murid yang hatinya dag dig dug dar waktu menerima rapor dan harap harap cemas apakah ada nilai yang merah. Gerombolan “bedebah” justru sedang asik nongkrong di kantin. Tapi tampak cemilan yang sedikit berbeda. Taulah mereka ini area sekolah dan terpampang jelas rambu “NO SMOKING”.

Mereka yakin, kalau mereka pasti naik kelas. Siapa yang berani gak naikin kelas anak para bejabat, dan petinggi di sini. Jadi mereka santai saja, kayak di pantai (padahal lagi di kantin bukan di pantai).

Perbincangan seru mereka akhirnya terhenti saat satu per satu orangtua mereka menghampiri dan menjewer mereka masing masing. “para bedebah pun” sempat mengelak bilang kalau ini kesalahan guru mereka. Namun para orangtua tidak percaya. Karena kalau dilihat dari pandangan mereka sendiri, para “bedebah” ini gak pernah belajar yang membuat nilai mereka buruk rupa.

Apalagi kalau ditambah dengan sikap mereka yang di atas batas wajar. Pantaslah mereka tidak naik kelas, dan pantas juga mereka diomeli habis habisan.

Sejak saat itu para Bedebah terpaksa harus mengulang kelas. Sedikit malu memang, tapi itu adalah satu satunya cara supaya mereka bisa menebus kesalahan mereka tahun lalu. Sejak saat itu pula para Bedebah sadar, mereka tidak kebal hukum.

Dengan berjalanya waktu, mereka sedikit sedikit bisa merubah sikap buruk yang selama ini mendarah daging. Walaupun dengan dilai yang standart akhirnya Bedebah itu bisa lulus, walaupun dengan nilai pas pasan.

Banyak pihak yang mendukung mereka, mulai dari orangtua sendiri, guru`, hingga kawan kawan yang peduli sehingga para Bedebah itu bisa lebih dewasa dan mengerti, tidak selamanya pangkat dan jabatan mampu mentolerir setiap kesalahan yang mereka lakukan.

10 tahun telah berlalu dan sekarang sepertinya aku ada di posisinya pak Adnan. Senyumku sedikit terukir setiap kali mengingat kejadian masa itu. Akankah sekarang aku akan bersifat sama dengan pak Adnan. Atau tutup mata dan telinga rapat rapat, mengingat saat ini aku bukan siapa siapa, dan mereka adalah anak anak para petinggi di daerah ini.

Entahlah, aku sedikit berfikir lebih keras. Karena bisa saja aku yang kena getahnya jika bertindak konyol. Baru kemarin berita di salah satu stasiun televisi menyatakan seorang guru dijatuhi hukuman karena menghukum muridnya yang membuat olah.

Dengan mantap kakiku melangkah menuju gerombolan anak berseragam putih abu abu itu. Aku memutuskan akan menanganinya, mungkin dengan cara yang sedikit berbeda dari pak Adnan. Karena dulunya aku pernah ada di posisi mereka, sepertinya aku tau bagaimana cara berfikir mereka yang masih sangat sempit. Semoga saja aku tidak kena masalah.

Cerpen Karangan: Isnar R

 

 

 

 

Contoh cerpen kehidupan sehari hari

 

Cinderella?

Hari ini hari Minggu, itu berarti aku harus siap-siap pergi ke gereja. Hari ini aku pakai baju apa yah? Minggu lalu aku pakai jaket hitam dengan dalaman abu-abu dan celana jeans favoritku, berarti hari ini aku akan pakai rok dengan corak bunga berwarna dominan orens dan atasannya biasanya aku pakai blouse peach polos, tapi hari ini aku mau yang beda. Aku akan mencoba mix and match rokku dengan sweater putih dengan motif simpel dilengkapi dengan diamond di bagian leher.

Sekarang tinggal model make up yang cocok dengan baju yang aku pakai. Aku siap dengan Naked Paletteku. Sepertinya aku akan menggunakan eye shadow dengan warna dasar foxy kemudian warna naked di atas dan di bawah mataku.

Selanjutnya untuk bagian ujung mata agar mata terlihat lebih besar aku harus menggunakan warna yang lebih gelap dari sebelumnya, mungkin warna darkside.

Yes cocok. Tapi tunggu, biar mataku terlihat lebih panjang aku harus menggunakannya melewati garis mataku, seperti membuat garis fake yang terlihat seperti garis mataku. Untuk sentuhan terakhir aku harus menambahkan sedikit glitter di mataku supaya mataku terlihat bersinar, he he he.

Aku memilih warna half baked dipadukan dengan warna chopper. Sedikit eyeliner untuk mempertegas mataku, mascara untuk bulu mataku, dan lipmatte warna Topaz favorit aku. Sekarang make up sudah siap. Aku siap berangkat.

Sampai di depan pintu, hal selanjutnya adalah memilih sepatu. Aku mau terlihat feminine, aku mau pakai sepatuku yang bertali. Tapi sepatuku sepertinya sudah sekarat, sebentar lagi sepatuku yang sebelah kiri hidupnya akan segera berakhir. Tapi aku sangat ingin menggunakannya. Aku nekat tetap menggunakannya. Aku harus hati-hati dan pelan-pelan berjalan. Yeahh aku sekarang benar-benar siap.

Hmm… inilah aku gadis yang selalu rempong ke manapun aku pergi. Aku melakukan apa saja demi ingin tampil perfect di depan semua orang. Namaku Rachel. Aku sekarang berada di semester 4 bangku perkuliahan. Sebagai mahasiswa jurusan pendidikan aku tetap harus menjaga etika berpakaianku. Jujur saja hal ini sangat sulit bagiku karena aku sangat ingin tampil fashionable.

Memang aku sudah sering ditegur karena gaya perpakaianku, tapi aku tampil sebagaimana aku. Aku selalu tampil dengan gaya yang nyaman bagiku tanpa mempersoalkan trend, karena bagiku trend itu diri kita sendirilah yang menciptakannya bukan orang lain.

Jika kamu menganggap dirimu OK dengan trend sekarang, itu berarti dirimu bergaya dengan trend atau gaya orang lain dan bukan dirimu sendiri. Kamu pasti kagum melihat orang dengan menggunakan pakaian yang menjadi trend sekarang.

Memang mereka terlihat keren karena apa yang mereka pakai cocok dengan mereka, itu bukan berarti kamu akan menjadi keren dengan menggunakan apa yang mereka pakai. Tidak selamanya semua itu cocok dengan dirimu. Jadilah dirimu sendiri. Itu akan lebih menyenangkan bukan. OK lanjutt.

Pagi itu aku moodku sedang bagus. Aku sangat percaya diri dengan apa yang aku pakai dari gaya rambut, make up, pakaian, sampai sepatu. Tapi aku sedikit khawatir dengan sepatuku.

“Ok, aku harus jalan pelan-pelan. Tolong sepatu bertahanlah sampai aku kembali lagi. OK”, ujarku dalam hati.
“Satu… dua… satu… dua… yeyy”, aku berjalan sambil bernyanyi kecil.

Aku sering berbicara dengan diriku sendiri. He he he, memang sedikit terdengar gila. Tapi yah begitulah aku. Gadis kesepian yang selalu bertindak ceria di depan orang bahkan pada diriku sendiri.

“Uhh kenapa jalannya jauh banget sih”, gumamku dalam hati dengan sedikit mengerutkan dahi.
“Sepatuku yang lucu sebentar lagi kita sampai, sabar yah. Kita harus terlihat anggun sekarang, kamu harus membantuku untuk terlihat cantik dan aku akan membantumu terlihat keren, OK”, aku membuat perjanjian dengan sepatuku. He he he.
“Yeeyy, kita sudah melewati setengah perjalanan lebih, sebentar lagi kita sampai. Kamu melakukannya dengan baik sepatuku. Tapi perjuangan kita belum selesai, masih ada sekitar 300 meter lagi untuk sampai ke gereja. SEMANGAT sepatu, kita akan menjadi partner terbaik tahun ini”.

Hatiku sedikit lega karena sepatuku masih bertahan untuk setengah perjalanan dan aku yakin itu akan bertahan sampai aku kembali lagi ke asrama. Oh iya, aku tinggal di asrama. Ini karena aku adalah mahasiswa yang beruntung mendapatkan beasiswa. Jadi aku tidak harus membayar uang kuliah dan tempat tinggal. Hmm, aku bukan hanya sedikit gila dan kesepian, aku juga gadis yang lumayan pintar kok. Hanya itu yang bisa aku banggakan he he he.

“Sekarang kita akan melewati gedung ini untuk pergi ke tujuan kita sepatu. Banyak sekali orang di sini, di depan ada orang, di belakang ada orang. Hmm kita harus terlihat OK. Ayo kita beraksi”, ucapku dalam hati dengan mengangkat kepalaku dan dada yang tegap.
Belum ada 5 meter setelah mengatakan itu, kaki kananku tersandung. Sebelum melewati pintu masuk gedung itu ada lantai yang dibuat sedikit lebih tinggi kira-kira 1,5 cm.

“Aucchh… Oh tidakkkk”, aku terkejut dan sedikit berteriak.
“Oh tidak tidakkkkk, sepatuku tewas!!!”

Aku sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Lucunya lagi, dari tadi aku berusaha supaya sepatu kiriku tidak tewas karena yang kirilah yang sekarat dan yang tewas lebih dahulu adalah sepatuku yang sebelah kanan.

“Sekarang aku harus gimana… ini sangat memalukan… banyak sekali orang di sini”, kataku dalam hati sambil menundukkan kepalaku dengan sedikit menutupinya dengan tanganku dan perlahan-lahan bergerak ke arah samping.

Aku benar-benar berada dalam situasi yang sangat membingungkan, karena sekarang sudah menunjukkan pukul 7.45 am sedangkan ibadah akan segera dimulai 5 menit lagi. Aku berpikir untuk kembali tapi waktunya sudah sangat mepet, tapi lebih tidak mungkin lagi kalau aku pergi ke gereja dengan sepatu yang tewas ini. Sekitar 1 menit aku bernegosiasi dengan pikiran dan perasaan maluku. Namun akhirnya aku membuat sebuah keputusan.

“OK… Aku harus melakukan ini”, ucapku dalam hati dengan mata tertutup dan kepala tertunduk.

Pandanganku hanya tertuju ke gedung asramaku yang berada sekitar 200 meter dari gedung dimana aku berada dan gedung tempat ibadah yang berada sekitar 300 meter dari gedung dimana aku berdiri. Aku membalikkan badanku ke arah asrama dan …

“Aku harus kembali ke asrama dan mengganti sepatuku, sekarang aku tidak peduli, tetap aku harus kembali sekarang dan aku tidak boleh terlambat ke gereja”, tangan kananku mulai meraih sepatu kananku yang tewas.
“Aku harus lari dengan kecepatan tinggi melewati lautan manusia di depanku dengan wajah tetap tersenyum anggun menutupi rasa malu yang melebihi ukuran bumi dan dengan tangan kananku yang memegang sepatu”, ucapku dalam hati sambil berlari.
“Wahh Cinderella membawa sepatunya… Ha ha ha”, kata orang-orang sambil aku berlari.
Aku mengabaikan semua perkataan orang-orang itu dan tetap berlari. Aku tidak sadar jika sepatu kiriku masih terpasang di kaki kiriku saat aku berlari.
“Wahh kamu memang partnerku yang terbaik, kamu menepati perjanjian kita tadi, kamu tetap bertahan meski aku berlari. Ayo sekarang kita berdua harus berjuang untuk tiba di asrama dengan cepat”, cakapku dalam hati dengan nafas terengah-engah.
“Hampir sampai, hehh ehh heeh huihh”
“Oh NO, jangan bilang itu dia!! .. Oh tidakkkkk itu benar benar diaaaa…”,aku terkejut bukan kepalang.

Jantungku terasa tersentak dan berdegub kencang melebihi getaran alarmku. Kecepatan berlariku bertambah 2 kali lipat sambil memalingkan wajahku sebisaku supaya dia tidak mengenaliku. Tapi apalah daya, matanya mengikutiku sampai aku melewatinya dan aku yakin dia mengenaliku.

Siapa sangka di saat yang genting seperti ini aku bertemu dengan cowok yang selama ini aku taksir, dengan penampilan yang hmmm benar-benar tidak karuan.

“Jangan lihat aku… jangan lihat akuuuu…”, aku berteriak sekencang-kencangnya dalam hatiku dan berharap dia mendengarnya.

Aku sampai di asrama dan benar-benar sunyi karena semua orang sudah berangkat ke gereja. Tanpa berpikir panjang aku langsung meraih sepatu sneaker hitamku yang biasa kupakai untuk berjalan santai. Sekarang penampilanku tidak jelas lagi. Bagian atas sudah seperti puteri anggun, tapi bagian bawah seperti gadis gelandangan.

“Hehh ehh huuiihhh aku hehh ambil hhh inihh ajahhh lahhh…”, nafasku tidak karuan lagi.

Aku berlari kembali menuju ke gereja. Sekarang aku sudah menggunakan sepatuku dan aku sudah tidak tahu lagi bagaimana penampilanku. Make upku luntur dan rambutku tidak karuan lagi.

“Uppssihh itu dia… wah lariku cepat juga yah aku masih bisa mendahuluinya. Uhmm lariku yang cepat atau dia yang jalannya pelan yah?.. ehmm gak taulah yang penting sekarang aku udah lega”.

Aku benar-benar tidak merasa malu lagi atas kejadian yang tadi. Sampai di gereja, aku langsung duduk meskipun wajahku masih terengah-engah aku langsung merapikan rabutku dengan tanganku dan melap keringatku dengan tissue. Aku berusaha untuk mengendalikan diriku dan mengatur nafasku.

Tanpa sadar ternyata semua orang melihat ke arahku. Aku langsung terpaku, serasa aku tidak bisa bergerak lagi dan pasrah karena tidak ada cara lagi untuk menyembunyikan wajahku.

Aku berusaha fokus untuk beribadah tapi kata-kata orang-orang tadi terus terngiang-ngiang dalam kepalaku. “Wahh Cinderella membawa sepatunya…”. Tapi entah kenapa mengingat kata-kata itu, ada sedikit rasa senang karena aku di sebut Cinderella ha ha ha. Tapi kisah Cinderella yang asli harusnya Cinderella kehilangan sepatunya, tapi aku malah membawa sepatuku yang rusak. Ha ha ha.

Aku mengikuti ibadah dengan lancar dan di akhir ibadah aku berkata kepada Tuhan, “Terima kasih Tuhan untuk kejadian pagi ini, Engkau berhasil membuat kisah Cinderella yang hanyalah dongeng menjadi sebuah kisah nyata…, tapi Tuhan aku boleh bertanya gak? Apakah Engkau tertawa terbahak-bahak saat aku berlari? Jujurlah Tuhan…”

Cerpen Karangan: Nathasya Setiachristie

 

 

 

Contoh Cerpen Horor, menyeramkan!

 

Deadly Challenge

Namaku Ardeon Rolley. Aku mempunyai saudara kembar bernama Aradine. Dari kecil kami hidup bahagia. Tapi semua berubah semenjak ayah dan ibu kami meninggal. Adikku menjadi cengeng dan aku juga mulai menjadi orang yang gampang depresi.

Suatu hari, aku merasa hidupku sudah tidak ada apa-apanya. Aku pun membuka handphoneku. Aku melihat ada notifikasi dari VK.Com (Bisa dicari di Google). Aku membuka notif itu. Aku melihat tulisan ‘The Blue Whale challenge. Challenge for all depression people’.

“Hm? Apa ini?” Batinku. Aku membacanya lebih lanjut.

Setelah membacanya, aku merasa tertarik mengikuti challenge itu. Aku menulis ‘I want to join #curatorfindme’ di akun VK ku.

“Challengenya seperti apa ya?” Tanyaku penasaran. ‘YOU’RE JOINED’

Hari pertama sampai hari ke sepuluh, tidak ada apa-apanya. Masih normal saja bagiku. Challengenya cuma sekedar bangun di jam 4:20 pagi lalu menonton film horor yang diberikan curator.

Hari ke sebelas sampai ke dua puluh, sepertinya semakin keterlaluan. Aku disuruh untuk menusuk tanganku dengan jarum sampai benar-benar masuk. Aku meminta curator untuk berhenti. Tetapi curator malah menjawab “Jika kau tak ingin melanjutkannya, biar aku saja yang melanjutkannya!”

Ini sudah hari ke 49. Luka di tangan dan kakiku sudah semakin banyak. Aku sudah tak tahan. Aku pun menghentikan challenge itu secara diam-diam. Tidak terjadi apa-apa rupanya.

Esok harinya, aku menunggu adikku, Aradine, di kantin sekolah. “Lama sekali!” Batinku kesal. Tiba-tiba hpku berbunyi. “Oh, Aradine menelepon…” Langsung saja aku mengangkatnya. Belum sempat aku berbicara, terdengar suara laki-laki.

“Halo? Kau bukan Aradine! Siapa kau?” Aku mulai panik. Dia menjawab “Hahaha… Kau sudah menghentikan challengenya bukan? Ok, kau boleh berhenti. Tapi…” Telepon itu mati.

Tiba-tiba, Ada pesan masuk di hpku.

Ternyata, dia mengirimkan video. Kubuka video itu. Mataku membulat karena kaget. Kulihat Aradine yang diikat di sebuah tiang dan dua orang pria yang membawa kapak di belakangnya. Aradine menangis meminta pertolongan. Tiba-tiba, salah satu pria itu mengayunkan kapaknya ke arah Aradine dan seketika layar berubah menjadi hitam. Cuma suara teriakan yang kudengar.

Kakiku melemas melihat video mengenaskan tentang kembaranku itu. Air mataku keluar dari mataku. Aku terdiam untuk beberapa saat. Sampai saat itu ada orang yang memukulku dengan sesuatu yang sangat kencang.

Disaat-saat seperti itu, aku hanya bisa mendengar suara tawa. Setelah itu, aku tak mendengar apapun lagi. Aku memejamkan mata dan tiba-tiba saja mucul bayangan Aradine yang memakai gaun putih.

“Ardeon, Selesai sudah cerita kita di dunia ini…” Aradine mengulurkan tangannya padaku.
“Mau pergi bersama?”
“… Ya…” Aku membalas uluran tangannya dengan tanganku. “Mari kita sudahi kisah hidup kita…”

Cerpen Karangan: Shabrina Assyifa

 

 

Nah Sobat Juraganers! Itulah beberapa ulasan mengenai pengertian cerpen, jenis-jenis cerpen, dan contoh-contoh cerpen. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk anda sahabat Juraganesia sekalian ya. Terimakasih dan salam sukses!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Don\'t Copy the Content is protected by Copyright!!
%d bloggers like this: